PASCA SARJANA BIOLOGI 2009 UNNES
Wahana Berkreasi dalam Interaksi Ilmiah dan Formula penggagas Kajian Akademik
Minggu, 01 Agustus 2010
KONSEP COMUNNITY-LEAD TOTAL SANITATION (CLTS)
BAGI KEBIASAAN BUANG AIR BESAR (BAB) DI SEPANJANG SUNGAI KALI SERANG OLEH MASYARAKAT KAMPUNG BONG (Jl. SEMBOJA )
RT 8 RW 6 KELURAHAN BINTORO KECAMATAN DEMAK
KABUPATEN DEMAK
Disusun untuk mengikuti Lomba Karya Tulis Ilmiah Tingkat Guru SMA Se-Kabupaten Demak yang diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan Pemuda dan OlahRaga KabupatenDemak Tahun 2010
oleh :
Nama : SETYO NUGROHO, S.Pd
NIP.19740430 200701 1 008
Unit : SMA Negeri 1 Demak
DINAS PENDIDIKAN KABUPATEN DEMAK
SMA NEGERI 1 DEMAK
TAHUN 2010
BAB I
PENDAHULUAN
A Latar Belakang
Usaha Pemerintah untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat telah banyak dilakukan, beberapa hal usaha yang digalakkan adalah ditingkatkannya sektor industri, pertanian dan pemukiman. Dengan demikian diharapkan taraf hidup masyarakat akan dapat ditingkatkan lagi.
Peningkatan pembangunan disektor pertanian, industri, dan pemukiman ternyata selain berdampak positif bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat ternyata dapat menimbulkan dampak negatif yang lain, diantaranya menyebabkan menurunnya kualitas lingkungan. Salah satu wujud penurunan kualitas perairan sungai. Menurunnya kualitas air sungai disebabkan oleh kegiatan-kegiatan di sektor industri, pertanian dan rumah tangga. Hal ini dikarenakan oleh rendahnya kesadaran sebagian masyarakat terhadap kelesarian lingkungan. Menurut Lase (1991:52) bahwa pengelolaan lingkungan oleh masyarakat Jawa Tengah belum membudaya. Mereka menganggap bahwa masalah ini menjadi tanggung jawab pemerintah. Masalah pencemaran dan munculnya reaksi terhadap dampak negatifnya baru terangkat ke permukaaan apabila sudah mencapai korban.
Di wilayah perdesaan atau perkotaan yang kurang tertata masalah jamban atau WC masih merupakan permasalahan yang pelik dan belum seluruhnya dapat diatasi. Tingginya angka pertumbuhan penduduk dan rendahnya pendapatan masyarakat menyebabkan semakin rumitnya permasalahan penyediaan jamban.Di samping itu, ada faktor yang menyebabkan masyarakat tidak atau belum mempunyai jamban/ wc, di antaranya:
1. Ketidaktahuan masyarakat akan proses pembangunan yang terjadi,karena ada anggapan bahwa semua urusan sanitasi merupakan urusan pemerintah.
2. Masalah budaya, bagi masyarakat yang kebetulan tinggal di pinggiran sungai, saluran irigasi dan kebun, membuang hajat cukup di sungai, saluran dan kebun. Selain tidak mengeluarkan dana juga ada rasa kepuasan tersendiri, walaupun mereka harus berjalan 500-1.500 meter dari rumah.
3. Masalah dana, untuk mendapatkan dana tunai untuk membuat jamban dirasakan sangat sulit, selain belum adanya budaya menabung, penghasilan sehari-hari habis untuk biaya
Berdasarkan pengamatan , air sungai di sepanjang sungai kali Serang mulai dari belakang pasar Bintoro Demak sampai kampung Bong/Jl. Semboja digunakan untuk sarana buang hajat, mandi dan pertanian, secara fisik kondisi air sungainya kurang sesuai dengan syarat-syarat air yang bersih dan sehat. Hal ini bisa dilihat kandungan air sungai yang sudah tercampur dengan bahan pencemar dari limbah pertanian, limbah pasar, tinja manusia, hewan dan lain-lain. Kondisi ini masih diperparah dengan sikap masyarakatnya yang suka buang air besar disepanjang sungai kali Serang tersebut. Oleh karena itu kondisi ini dapat merusak citra positif kota Demak sebagai kota wali yang disebabkan sebagian masyarakatnya yang terbiasa buang air besar di sungai yang kurang memenuhi standar nilai kesehatan, nilai etika dan estetika. Apalagi di wilayah sepanjang sungai kali es termasuk wilayah perkotaan dekat dengan kantor pemerintahan daerah dan merupakan salah satu titik pantau jalur kebersihan kota.
Masalah kesehatan di Indonesia menurut Adam Syamsunir (1979:20) berkisar pada dua hal, yaitu :
1. Masalah kesehatan lingkungan tersebut muncul sebagai akibat masih rendahnya tingkat pendidikan penduduk, masih terikat eratnya masyarakat Indonesia dengan adapt istiadat, kebiasaan, kepercayaan, kultur yang tidak sejalan.
2. Masalah kesehatan tersebut muncul sebagai akibat dari terdapatnya beberapa faktor lingkungan yang jika ditinjau dari segi kesehatan tidak begitu menguntungkan.
Dari pernyataan di atas menunjukkan bahwa pengetahuan, kesadaran mempengaruhi tingkat kebersihan dan kesehatan lingkungan, termasuk kebiasaan buang air besar di sepanjang air sungai. Keadaan ini selaras dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Swandhini (1991:68) bahwa rendahnya sikap dan pengetahuan tentang kebersihan lingkungan cenderung menimbulkan perilaku negatif terhadap penggunaaan air sungai di Sungai Ciliwung .
Berdasarkan pengamatan penduduk Rt 8 RW 6/ Kampung Bong/Jl. Semboja Kelurahan Bintoro Kecamatan Demak di sepanjang sungai kali es yang buang air besar frekuensinya cukup tinggi. Mereka melakukannya pagi , siang dan malam hari. Konsep Community-Lead Total Sanitation (CLTS) telah masuk ke Indonesia. Kini serangkaian uji coba mulai dilaksanakan di beberapa daerah. Konsep tersebut telah sukses mengubah perilaku masyarakat khususnya di Bangladesh dan India yang biasa membuang air besar (BAB) di tempat terbuka pindah ke jamban. Konsep Community-Lead Total Sanitation (CLTS) tergolong baru di Indonesia. Konsep ini 'diimpor'dari India dan Bangladesh yang telah terlebih dahulu melaksanakan, setelah beberapa wakil Indonesia mengunjungi dua Negara tersebut pada akhir 2004. CLTS memiliki tiga tujuan yakni
(i) mengubah perilaku dan meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai kesehatan;
(ii) memberdayakan masyarakat;
(iii) mengurangi tingkat buang air besar (BAB) di daerah terbuka. Berdasarkan pengalaman didua negara itu, CLTS mampu mengubah perilaku dan meningkatkan kesadaran masyarakat dalam waktu yang cukup singkat dibandingkan dengan konsep lainnya. Secara ringkas prosesnya diawali dengan identifikasi kondisi dan fakta mengenai tingkat kesehatan(terutama pola BAB didaerah terbuka) yang ada di desa lokasi program.Kemudian masyarakat diajak untuk berdiskusi mengenai kondisi dan faktatersebutdikaitkan dengan kesehatan, keindahan,atau lainnya. Saat itu masyarakat dihadapkan secara langsung dengan persoalan. Proses ini mempunyai sasaran agar masyarakat
mulai sadar bahwa ternyata selama ini mereka tidak hidup bersih dan sehat dan bertanya bagaimana mengubah kondisi mereka. Kesadaran masyarakat tersebut selanjutnya ditindaklanjuti dengan memberikan informasi sederhana mengenai hal-hal yang dapat dilakukan masyarakat untuk mengatasi kondisi kesehatan di daerahnya.
Berdasarkan pengamatan penduduk Rt 8 RW 6 kampung Bong/Jl. Semboja Kelurahan Bintoro Kec. Demak di sepanjang sungai kali Serang yang buang air besar frekuensinya cukup tinggi. Mereka melakukannya pagi , siang dan malam hari. Oleh karena itu konsep CLTS bisa menjadi alternatif untuk memecahkan masalah perilaku negatif masyarakat yang buang air besar disepanjang sungai kali es tersebut.
B. Pembatasan Masalah
Masalah dalam penelitian ini dibatasi pada beberapa masalah yang berhubungan dengan kebiasaan buang air besar yang dilakukan oleh masyarakat Rt 8 RW 6/ Kampung Bong/Jl. Semboja Kelurahan Bintoro Kecamatan Demak serta penyelesaiannya dengan konsep CLTS.
C. Perumusan Masalah
1. Apakah yang menyebabkan masyarakat Rt 8 RW 6/ Kampung Bong/Jl. Semboja Kelurahan Bintoro di sepanjang sungai kali Serang melakukan kebiasaan buang air besar di sungai kali Serang yang kurang memperhatikan aspek kebersihan dan kesehatan lingkungan
2. Apakah konsep CLTS dapat menjadi alternatif pemecahan masalah penyediaan sarana jamban/wc yang memperhatikan aspek kebersihan dan kesehatan lingkungan.
D. Tujuan penelitian
Tujuan penelitian ini adalah : 1 Untuk mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan kekurangsadaran masyarakat di Rt 8 Rw 6 kampung Bong/Jl. Semboja yang masih air besar di sepanjang sungai kali Serang kelurahan Bintoro, 2. Untuk menjadi pertimbangan dan usulan sekaligus problem solving kepada Pemerintah Daerah Kabupaten Demak menangani sanitasi yang baik bagi perbaikan kebersihan dan kesehatan lingkungan masyarakat.
E. Manfaat penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan kajian dan pertimbangan atau Pilot Project Pemda Kabupaten Demak melalui Dinas Kesehatan, Kantor Kimpraswil, Bappeda dalam pemecahan masalah ketidaksediaan jamban/wc keluarga, air bersih, juga tingkat kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga kebersihan dan kesehatan lingkungan khususnya masyarakat disepanjang kampung Bong/Jalan Semboja Rt 8 RW 6 Kelurahan Bintoro.
Perlu dipikirkan apakah konsep program inovatif CLTS ini dapat dikembangkan atau perlu diwujudkan untuk mendukung ketersedian sarana kebersihan dan kesehatan lingkungan.
BAB II
KERANGKA TEORI DAN KERANGKA BERFIKIR
A. Tinjauan Pustaka
1. Kondisi Masyarakat di RT 8 RW 6 kampung Bong Kelurahan Bintoro
Kampung Bong atau jalan Semboja termasuk wilayah RT 8 RW 6 Kelurahan Bintoro kebanyakan berasal dari masyarakat urban yang kebetulan masih satu RW dengan kantor Pemerintah Daerah kabupaten Demak . Sepintas lalu kita melihat termasuk wilayah perkotaan tersebut cukup indah dan rapi . Bahkan beberapa sanitasi yang dimiliki warga cukup bagus. Namun di balik itu ternyata masih banyak dijumpai keluarga yang sama sekali tidak mempunyai WC keluarga. Mereka ini biasa buang air besar di sungai kali es , sawah, atau selokan pada waktu matahari belum terbit atau setelah matahari terbenam. Aktivitas itu terkadang berbarengan dengan mencuci pakaian atau mandi kalau debet air naik.
Menurut studi penelitian kampong Bong dahulu merupakan kawasan kumuh bahkan termasuk PGOT( Perkumpulan Gelandangan Orang Terlantar ), tahun 1974 oleh Bupati Demak kala itu Bapak Winarno Adi Subrata kawasan itu dijadikan perkampungan dengan mendirikan beberapa rumah sederhana untuk kaum urban pada saat itu. Secara turun temurun baru mulai bertambah penduduknya. Namun ironisnya mereka banyak yang belum mempunyai kelengkapan administrasi, bahkan sampai sudah mempunyai anak dan keturunan, baru oleh pemerintah saat itu dibuatlah perkawinan massal sehingga sampai sekarang kampung Bong sudah tertib administrasi keluarga., misalnya kepemilikan KTP, KK dan Kartu Nikah, namun perlu dipertanyakan kepemilikan sertifikat tanah apakah mereka sudah memiliki sertifikat tanah atau belum. Selain itu kampung Bong juga memiliki citra negatif yang sampai sekarang sulit dihilangkan misalnya dianggap sebagai daerah kampung perselikuhan, perkelahian, miras, pencurian dll. Walaupun tidak semua pelakunya warga kampung Bong tetapi kampung tetangga sebelah namun karena sudah terlanjur memperoleh predikat negatif sehingga sampai sekarang predikat itu masih melekat.
Secara geografis wilayah Rt 8 RW 6 Kampung Bong/ Jalan Semboja Kelurahan Bintoro Kecamatan Demak terletak di sebelah barat jalan Semarang – Demak/ depan pasar Bintoro, disebelah utara bersebelahan dengan kelurahan kalicilik. Sepanjang kawasan itu terdapat sungai kali Serang ( Daerah Aliran Sungai ) yang sejak dahulu dimanfaatkan penduduk untuk kebutuhan hidup sehari-hari. Misalnya untuk mandi, mencuci, buang air besar dan lain-lain. Namun ada fenomena disaat ada ketersediaan air PAM ( terbukti ada Sumur Umbul resmi dari PDAM) dan sarana transportasi yang menunjang di kawasan kampung Bong ternyata kesadaran masyarakat disana akan pentingnya kesadaran etika lingkungan dimana mereka banyak yang buang air besar dan dan kadang mandi di sungai tersebut, apakah dikarenakan kebutuhan akan air bersih dan jamban keluarga belum sepenuhnya dapat dirasakan oleh masyarakat khususnya di sepanjang sungai kali es yang belum sepenuhnya merata atau ada faktor-faktor lain yang mempengaruhi. Di samping itu mayoritas masyarakat di kampung Bong adalah pendatang/ urban yang masih ada yang memanfaatkan kuburan cina sebagai tempat tinggalnya dengan strata ekonomi yang kurang. Hal ini didapatkan dari pengamatan bahwa sedikit sekali masyarakat di sana yang mempunyai jamban keluarga, apalagi sumur artesis sangat sedikit, padahal untuk membuat sumur artesis membutuhkan biaya yang besar serta kedalaman tanah yang relatif tinggi ( > 100 meter ), tetapi anehnya ada juga beberapa penduduk yang sudah mempunyai jamban keluarga tetap saja buang air besar disepanjang sungai kali es
2. Peranan air dalam kehidupan manusia
Sejak dilahirkan manusia hidup dalam lingkungan tertentu yang menjadi wadah makhluk hidup ini yang tidak membutuhkan air.hidup misalnya, baik sel hewan maupun sel tumbuhan tersusun oleh air. Lebih dari 70 % isi sel tumbuhan dan lebih dari 67 % isi sel hewan tersusun oleh air ( Suriawiria, 1985 : 5 ).
Manusia dalam kehidupannya setiap akan selalu membutuhkan air. Air dibutuhkan manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya seperti minum, memasak, membersihkan tubuh dan benda-benda yang dibutuhkan ( Dwijoseputro, 1984 : 173). Jumlah air yang dibutuhkan manusia, berbeda untuk setiap tingkatan kehidupan. Semakin tinggi taraf kehidupan manusia di suatu daerah, semakin meningkat pula jumlah air yang dibutuhkan.
Selain membutuhkan air, manusia juga membutuhkan pangan, udara, permukiman sebagai tempat berlindung dan beristirahat. Tetapi pembangunan juga mempunyai efek negatif yang perlu dicermati manusia. Pembangunan yang berwawasan lingkungan selalu memperhatikan aspek kesehatan lingkungan menjadi tolok ukur keberhasilan pembangunan. Jangan sampai pembangunan hanya menguntungkan pada salah satu golongan saja, akan tetapi berguna untuk seluruh lapisan masyarakat. Bagi mereka yang tinggal di tepi sungai, kebutuhan air tidak hanya dicukupi melalui sumur saja, tetapi sering diambil secara langsung dari sungai. Kenyataan ini menurut Swandhini ( 1991 : 62 ) disebabkan tingkat pendidikan rendah, sehingga tingkat kesadaran tentang pentingnya kebersihan dan kesehatan sanitasi sangat kurang. Berdasarkan pengamatan air sungai kali Serang keruh, berlumpur dan bercampur dengan limbah yang berasal dari pasar Bintoro dan kotoran limbah lain.
3. Parameter Kualitas Kebersihan
Mungkin tidak terlalu jelas dan mudah untuk dipahami, kualitas kebersihan macam apa yang diharapkan muncul dalam suatu penataan lingkungan perkotaan.Jumlah tempat sampah rumah yang tersedia, jumlah tempat sampah di tepijalan, frekuensi pengumpulan dan pengangkutan sampah, keterkumpulan dan keterangkutan sampah, hingga kebersihan sungai yang melalui suatu kawasan merupakan sebagian parameter yang dapat diukur untuk melakukan kuantifikasi dari tingkat kebersihan.
Namun, setiap kawasan atau kota,juga memiliki batasan tertentu dalam system penanganan sampah yang mendukung kebersihan. Batasan utama haruslah didasarkan atas ketersediaan dana untuk penanganan sistem persampahannya. Sejauh masyarakat mampu dan mau untukmembayar retribusi sampah sesuai dengan kualitas kebersihan yang diinginkan,menjadi tugas pemerintah untuk memformulasikan kuantifikasi kebersihan yang diinginkan oleh masyarakat tersebut. Hal ini dapat diukur dengan membuat suatu perhitungan keadaan ideal,mengenai berapa jumlah dana yang dibutuhkan untuk melakukan investasi sistem kebersihan yang terpadu. Mengingat kampung Bong termasuk wilayah perkotaan sungguh disayangkan apabila penanganan sampah atau limbah yang mencemari aliran sungai kali es semakin menambah tingkat pencemaran sungai tersebut hidupannya.
4. Pengelolaan jamban
Sebagai akibat dari proses metabolisme yang berlangsung dalam tubuh manusia,terjadi pemisahan dan pembuangan zat-zat yang tidak dibutuhkan oleh tubuh, diantaranya berbentuk tinja (feces) dan air seni ( urine ). Jika dalam pembuangan kedua zat tersebut tidak baik, tentu dapat mencemari lingkungan. Untuk itu perlu adanya tempat penampungan yang memenuhi syarat kesehatan. Salah satu tempat penampungan yang baik adalah jamban keluarga atau wc. Jamban adalah sarana kebersihan yang sederhana, terdiri dari pelat jongkok dengan pipa leher angsa yang dilengkapi dengan saluran pembuangan berupa cubluk ( Direktorat Penyehatan Lingkungan Pemukiman, 1990 : 15 ).
Ada beberapa jenis jamban yang dapat digunakan oleh masyarakat, misalnya jamban leher angsa, jamban cubluk, jamban empang dan jamban kimia. Akan tetapi yang sesuai dengan syarat kesehatan dan sesuai untuk digunakan oleh masyarakat ada dua macam,yaitu : jamban leher angsa dan jamban cemplung.
Jamban leher angsa, yaitu wc dimana leher lubang closet berbentuk lengkungan yang selalu terisi air yang berguna untuk mencegah bau kotoran serta masuknya kotoran-kotoran kecil. Jamban model ini dilengkapi dengan lubang penampung dan lubang rembesan yang disebut septic tanc. WC ini adalah model terbaik yang dianjurkan, sedangkan jamban cemplung, yaitu jamban dimana tempat injakan atau di bawah bangunan kakus. Jamban model ini ada yang mengandung air berupa sumur-sumur yna banyak ditemui di pedesaan, ataupun yang tidak mengandung air seperti kaleng, tong, lubang tanah yang tidak berair ( Azwar, 1978 : 76-77)
5. Kebiasaan buang air besar di sungai
Kebiasaan adalah reaksi otomatis terhadap situasi khusus yang biasanya diperoleh sebagai hasil ulangan atau belajar ( Drever dalam Simanjutak, 1988). Menurut Hull dan Wolman, 1974), kebiasaan adalah suatu pola perilaku yang menetap yang terjadi berdasarkan hukum reinforcement. Eysenk ( 1975 ) berpendapat bahwa kebiasaan adalah suatu pola perilaku kondisi, atau situasi tertentu yang terbentuk melalui proses belajar. Dasar pembentukan kebiasaan adalah pengulangan respon yang disengaja. Kebiasaan penting untuk penyesuaian diri dan merupakan sesuatu yang sangat unik dan mantap yang selanjutnya mencapai functional autonomy. Dengan demikian kebiasaan merupakan sesuatu yang bebas dari motivasi, yang menyebabkan kebiasaan itu mengembangkan kualitas dinamis seseorang.
Kebiasaan buang air besar juga merupakan suatu perilaku yang terjadi pada seseorang atau masyarakat yang memberikan image positif bagi yang bersangkutan. Jadi seseorang atau masyarakat yang terbiasa dengan buang air besar di sungai dipengaruhi rasa puas, bebas, nyaman akan cenderung mengulang aktifitas tersebut. Pengulangan inilah yang akhirnya membentuk suatu kebiasaan.
6. Konsep Community-Lead Total Sanitation (CLTS)
Konsep Community-Lead Total lSanitation (CLTS) tergolong baru di Indonesia. Konsep ini 'diimpor'dari India dan Bangladesh yang telah terlebih dahulu melaksanakan,setelah beberapa wakil Indonesia mengunjungi dua negara tersebut pada akhir 2004. CLTS memiliki tiga tujuan yakni :
(i)mengubah perilaku dan meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai kesehatan;
(ii) memberdayakan masyarakat;
(iii) mengurangi tingkat buang air besar (BAB) di daerah terbuka. Berdasarkan pengalaman didua negara itu, CLTS mampu mengubah perilaku dan meningkatkan kesadaran masyarakat dalam waktu yang cukup singkat dibandingkan dengan konsep lainnya. Secara ringkas prosesnya diawali dengan identifikasi kondisi dan fakta mengenai tingkat kesehatan (terutama pola BAB di daerah terbuka) yang ada di desa lokasi program. Kemudian masyarakat diajak untuk berdiskusi mengenai kondisi dan fakta tersebut dikaitkan dengan kesehatan, keindahan,atau lainnya. Saat itu masyarakat dihadapkan secara langsung dengan persoalan. Proses ini mempunyai sasaran agar masyarakat mulai sadar bahwa ternyata selama ini mereka tidak hidup bersih dan sehat dan bertanya bagaimana mengubah kondisi mereka. Kesadaran masyarakat tersebut selanjutnya ditindaklanjuti dengan memberikan informasi sederhana mengenai hal-hal yang dapat dilakukan masyarakat untuk mengatasi kondisi kesehatan di daerahnya. Konsep ini cukup bagus karena pemicuan tidak memerlukan intervensi dana sama sekali. Hanya saja, konsep ini perlu diuji di lapangan mengingat kondisi budaya India dan Bangladesh dibandingkan masyarakat Indonesia tak bisa disamakan begitu saja. Dalam rangka itu, perlu dibentuk pokja-pokja yang membantu dalam penanganan kesadaran masyarakat supaya tidak buang air besar dan sebisa mungkin menyediakan jamban keluarga. Mungkin penanganan pokja ini bisa menjadi percontohan nantinya di kabupaten Demak yang mayoritas pedesaannya banyak daerah aliran sungai. Kunci penerapan CLTS ini adalah keberadaan natural leader/penggerak yang mumpuni sehingga bisa memicu dan menjaga semangat masyarakatnya, adanya pengawasan terus menerus kepada masyarakat, dan insentif-misalnya berupa kebanggaan bagi masyarakat yang terpicu.Memang dari sisi pemicuan agar masyarakat memiliki jamban, pendekatanini cukup sukses. Tentu pendekatan ini tidak ditujukan Cuma Lubang Tahi Saja, mengingat masih banyak hal yang terkait dengan kesehatan lingkungan.
B. Hipotesis
Berdasarkan dasar teori yang telah dikemukakan penulis mengajukan hipotesis sebagai berikut :
1. Adanya kekurangsadaran dikalangan masyarakat kampung Bong/ Jalan Semboja Rt 8 Rw 6 Kelurahan Bintoro yang buang air besar di sungai kali Serang terhadap dampaknya bagi kebersihan dan kesehatan lingkungan.
2. Konsep Community-Lead Total Sanitation (CLTS) dapat menjadi salah satu alternatif pemecahan sanitasi buruk di lingkungan tersebut.
3.
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
Penelitian ini mencoba untuk mengetahui faktor-faktor kendala apa yang dapat dijumpai pada masyarakat di kampung bong jalan semboja Rt 8 Rw 6 yang masih buang air besar di sepanjang sungai kali Serang kelurahan Bintoro demak, serta menawarkan konsep Community-Lead Total Sanitation (CLTS) bagi pemecahannya.
A. Setting
1. Populasi
Penelitian ini dilaksanakan di kampung Bong Rt 8 RW 6 yang sebagian besar wilayahnya di depan sungai kali Serang. Agar lebih jelas kriteria ini diambil karena berbagai faktor :
1. mereka relatif lebih sering menggunakan sungai kali es untuk buang air besar
2. wilayah Rt 8 Rw 6 kampung bong/jalan semboja kelurahan bintoro terletak tepat di depan air sungai
3. jumlah data seluruhnya dapat mewakili seluruh populasi yang menggunakan sungai kali es tersebut untuk buang air besar
Berdasarkan survey pendahuluan poulasi Rt 8 Rw 6 sebesar 54 KK.
2. Sampel
Karena jumlah anggota populasi dalam penelitian ini kurang dari 100 maka menurut Suharsimi Arikunto (1993), apabila subyek penelitian kurang dari 100 maka diambil semuanya dari populasi . Jadi dalam rencana penelitian ini sample ditetapkan 54 KK . Teknik yang dipakai adalah teknik keseluruhan populasi, yang berguna untuk mendapatkan populasi yang lengkap, yaitu dilakukan secara langsung. Dengan tujuan agar semua anggota populasi memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi objek penelitian.
B.Variabel penelitian
Dalam penelitian ini ada dua variabel yaitu variabel bebas terdiri dari konsep CLTS dan variabel terikat terkait dengan kebiasaan buang air besar
C. Teknik pengumpulan data
1. Metode angket
Angket yang digunakan berupa sejumlah pertanyaan tertulis yang diberikan kepada responden untuk memperoleh data tentang kebiasaan buang air besar. Angket yang digunakan dalam penelitian ini berupa angket bentuk skala, yaitu berupa butir-butir pertanyaan yang disertai alternative jawaban berupa pendapat. Cara penyusunannya berdasarkan usulan Esysenck dan Cown yaitu kombinasi antara model Thurstone dan Likert. Pemberian skor untuk mengetahui tentang kebiasaan buang air besar didasarkan pada skala Guttman. Indikator untuk ubahan ini ada ya atau tidak diberi skor 1 dan tidak 2 apabila pernyataa negative.
2. Metode dokumentasi
Metode ini digunakan peneliti untuk menambah sumber referensi yang diperlukan yaitu data kongkrit jumlah penduduk, pendidikan, pendapatan, denah wilayah kampung Bong khususnya yang dekat dengan aliran sungai kali es.
3. Metode Interview
Metode ini dilakukan untuk mengambil data yang mendukung sekaligus nara sumber yang berkompeten untuk mensinkronkan konsep penelitian bagi solusi pemecahan masalah sanitasi khusunya program CLTS di BAPEDDA, KIMPRASWIL , Dinas Kesehatan Kabupaten Demak.
4. Lembar Observasi
Lembar observasi ini digunakan sebagai bahan penunjang dan pelengkap data yang diperoleh. Adapun lembar observasi ini dikembangkan sedemikian rupa sehingga dapat diperoleh kevalidan data di lapangan.
D Metode Analisis Data
1. Analisis deskriptif prosentase
Analisis deskriptif prosentase bertujuan untuk memperoleh gambaran tentang suatu keadaan atau suatu status fenomena ( Suharsimi Arikunto, 1986 : 195 ). Data yang berupa angka dijumlah pada setiap kelompoknya kemudian diolah menjadi bentuk prosentase.
Proses analisis data dimulai dengan menelaah data dari dokumen, kemudian memilah-milahnya ke dalam table. Adapun penentuan indeks persentase dihitung dengan rumus persentase sebagai berikut :
% = n x 100 %
N
Keterangan :
% : persentase nilai yang diperoleh
n : skor yang diperoleh
N : skor maksimal/skor ideal
Menurut Suharsimi Arikunto ( 1986:196 ), visualisasi data sangat mempermudah peneliti dan orang lain untuk memahami hasil penelitian
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
1. Kondisi Umum Daerah Penelitian
Hasil Penelitian diawali dengan deskripsi daerah penelitian. Adapun hal-hal yang perlu diungkap seperti di bawah ini :
a. Keadaan masyarakat di kampung Bong/Jalan Semboja Rt 8 Rw 6 Kelurahan Bintoro menurut tingkat pendidikan
Menurut hasil angket yang disebarkan tingkat pendidikan responden yang paling banyak adalah tamat SD sebesar 54 % ( 29 KK ), tidak tamat sekolah 41 % ( 22 KK) dan tamat SMP 0,03 % ( 2 KK ), tamat SMA 0,01 % ( 1 KK). Agar lebih jelas dapat dilihat pada Tabel I
Tabel I Tingkat Pendidikan formal masyarakat kampung Bong/Jalan Semboja Kelurahan Bintoro Kec. Demak
No. Jenis Pend. Formal Jumlah Prosentase
1. Belum Sekolah - -
2. Tidak sekolah - -
3. Tidak tamat SD 22 41 %
4. Tamat SD/sederajat 29 54 %
5. Tamat SMP/sederajat 2 0,04 %
6. Tamat SMA/sederajat 1 0,01 %
7. Tamat PT/Akademi - -
Jumlah 54 100 %
Sumber : Data Rt 8 RW 6 Kelurahan Bintoro Tahun 2008
b. Keadaan Masyarakat menurut Mata Pencaharian
Menurut hasil penelitian mata pencaharian responden terbesar adalah tukang becak sebesar 27 KK ( 50 % ), pemulung 15 KK ( 27 % ) dan buruh bangunan 2 orang ( 0,04 % ), PNS 1 KK ( 0,01 % ). Agar lebih jelas dapat dilihat pada tabel II, sebagai berikut :
No Jenis Mata Pencaharian Jumlah Presentase
1. Tukang becak 27 50 %
2. Pemulung 15 27 %
3. Buruh pabrik 3 0,05 %
4. Buruh bangunan 2 0,04 %
5. PRT 1 0,01 %
6. Pedagang 2 0,04 %
7. PNS 1 0,01 %
8. Perangkat desa 1 0,01 %
9. Lain-lain 2 0,04 %
10 Jumlah 54 100 %
Sumber : Data Rt 8 Rw 6Kampung Bong/Jalan Semboja Kelurahan Bintoro Demak
Dari tabel II, diatas maka dapat diketahui bahwa sebagian besar penduduk kampong Bong Jalan Semboja Kelurahan Bintoro bermata pencaharian sebagai tukang becak sebanyak 27 KK ( 50 % , dan pemulung sebanyak 15 KK ( 27 % ) serta sektor lainnya hanya sebagian kecil.
c. Jumlah pendapatan masyarakat kampung Bong
Menurut hasil penelitian jumlah pendapatan masyarakat/responden cenderung rendah yaitu kurang dari Rp. 500.000 sebesar 81 % ( 44 KK ) dan hanya 19 % ( 10 KK ) yang jumlah pendapatannya sedang yaitu antara Rp. 750.000 s/d Rp. 1500.000. Perhitungan dapat dilihat pada lampiran III.
D. Keadaan penduduk menurut kepemilikan WC
Menurut hasil penelitian kepemilikan WC pribadi cenderung rendah yaitu 10 KK ( 18 % ) sedangkan sisanya adalah tidak mempunyai WC pribadi 44 KK ( 82 %) .
B. Pembahasan
Pada tabel I Keadaan penduduk Rt 8 Rw 6 kampung bong/ Jl. Semboja Kelurahan Bintoro menurut tingkat pendidikan dapat diamati bahwa pendidikan formal masyarakatnya tertinggi adalah hanya tamat SD/sederajat (54 %) sehingga kesadaran tentang kebiasaan buang air besar yang negative masih sangat kurang. Sebenarnya di tiap pertemuan rutin RT 8 sering disinggung atau lewat pengajian namun sulit sekali karena alasan dana dan karakteristik khas warganya. Di samping itu kegiatan pokja dasa wisma kebanyakan hanya diikuti oleh ibu-ibu yang sudah tua sementara yang masih usia produktif banyak yang bekerja sehingga kurang mencapai sasaran. Kondisi ini dapat dieliminir dengan pendekatan CLTS yang komprehensip jika tingkat pencapaian sasaran target terpenuhi namun terbentur kendala yaitu kekurangsadaran masyarakatnya akan pentingnya kesehatan lingkungan.
Pada tabel II Keadaan masyarakat menurut mata pencaharian terlihat bahwa sebagian besar masyarakat berprofesi sebagai tukang becak ( 50 % ) dan pemulung ( 27 % ) berarti kondisi ini dapat memperkuat tafsiran bahwa mereka umumnya dalam kondisi miskin sehingga untuk dapat memikirkan aspek kebutuhan air yang bersih belum menjadi program utama. Bahkan walaupunberstatus sebagai tukang becak kenyataannya para bapak banyak yang menganggur dan justru para istri yang bekerja relatif tetap misalnya menjadi PRT, Jadi jika para suami mempunyai pendapatan rata-rata kurang dari Rp. 500.000 dan para istri kurang dari 150.000 ( karena hanya jadi buruh cuci dll). Dapat dibayangkan betapa sulitnya perekonomian mereka untuk sekadar mengurusi masalah jamban keluarga. Berdasarkan hasil studi, dari seluruh keluarga di wilayah Rt 8 Rw 6/Kampung Bong sebanyak 18 persen mempunyai WC pribadi ( 10 KK ) dan sisanya 82 persen tidak mempunyai ( 44 KK). Dari mereka yang tidak punya WC, 37 KK buang air besar di sungai kali es (84 persen), dan ikut buang di WC tetangga yang baik hati 7 KK (16 persen), Kemudian sebanyak 92 persen di kali, 0,05 persen dikolam/blumbang, dan 0,03 persendi tempat lain seperti kebun, pekarangan,
dan sebagainya. Jumlah hajat yang langsung di buang ke sungai kali cukup mencemari . Bila setiap hari manusia buang hajat 0,2 kg, maka akan ada 7,4 kgper hari yang dibuang langsung ke sungai/alam bebas atau 222 kg per bulan (kira-kira 1 truk penuh-hajat). Beberapa alasan mendasari mengapa
warga kampung Bong tidak membangun jamban/WC pribadi:
Alasan utama:
Kesulitan investasi awal karena untuk membuat jamban dibutuhkan biaya lebih dari 1 juta
Tidak ada tempat
Alasan lain:
Belum mapan
Begini sudah cukup
Lain- Lain
Konsep CLTS dapat dikembangkan disini walaupun untuk pengadaan dan Diversifikasi Sumur PDAM tahun 2008 sudah diajukan oleh Pemkab melalui Kantor Bappeda dengan prioritas adalah 9 desa yaitu desa Jetak wedung, Mutih kulon Wedung, Solourip Kebonagung, Doreng Wonosalam, Tlogorejo Karangawen, Pundenarum Guntur, Banyumeneng Mranggen, Karangasem Sayung. Bahkan Proyek ini rencananya akan dilaksanakan oleh Dinas Kimpraswil ( Sumber : Bappeda dan Kimpraswil Kab. Demak tahun 2008 ). Namun sungguh disayangkan proyek ini belum menyentuh di kampung Bong yang nota bene daerah perkotaan dan sangat membutuhkan. Apalagi untuk menangani masalah etika dan norma masyarakat yang buang air besar di sana. Dari hasil survey kebanyakan masyarakat setuju apabila konsep CLTS dapat diterapkan pada pengadaan jamban keluarga dengan konsep 3 in 1 atau 3 closet 1 septic tank, artinya bisa ditanggung 3 KK dengan masing-masing mempunyai 3 closet tetapi cukup 1 septic tank saja sudah sangat membantu, di samping itu warga mau mengkredit mikro tanpa bunga atau jika ada bunga cukup sedikit saja dan tidak memberatkan. Memang bantuan dari BKM kurang lebih 4 bulan yang lalu sudah dapat dinikmati masyarakat namun kebanyakan digunakan untuk kredit usaha kecil dan belum ada yang menyentuh ke permasalahan jamban keluarga.
Data dari hasil perhitungan etika dan estetika dari angket diperoleh data presentase, responden yang memiliki rasa malu ( 97 % ), tidak malu (3 %), jijik ( 31 % ), tidak jijik ( 69 % ). Jadi menurut pandangan mereka kebiasaan buang air besar di sungai kali es merupakan rutinitas yang biasa mereka terpaksa dilakukan tapi aneh mereka tidak jijik terhadap keadaan tersebut. Hal diperkuat dari keterangan sebagian besar warga kampung Bong Rt 8 Rw 6 yang buang air besar pada pagi sekitar jam 5 dan malam jam 19.00. Walaupun pada siang hari ada yang buat hajat di sungai tersebut namun intensitasnya sangat sedikit. Ini membuktikan bahwa mereka relative malu buang hajat dilihat oleh orang lain. Atau dapat disimpulkan kebiasaan buang air besar ini terpaksa dilakukan karena berbagai hal sejak dulu dan turun temurun. Tidak kurang sindiran halus sering diungkapkan oleh para pemuka kampung Bong, namun sampai sekarang belum efektif karena kompleksitas permasalahannya. Walaupun sudah ada sumur PDAM yang dapat dimanfaatkan oleh masyrakat di sana namun umumnya hanya untuk keperluan memasak , mandi/ sebagian dan air minum saja sedangkan buang air besar sebagian besar masyarakat tetap melakukannya. Apabila CLTS ini bisa diterapkan setidaknya sedikit demi sedikit kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga kebersihan dan kesehatan lingkungan akan tercipta.
BAGI KEBIASAAN BUANG AIR BESAR (BAB) DI SEPANJANG SUNGAI KALI SERANG OLEH MASYARAKAT KAMPUNG BONG (Jl. SEMBOJA )
RT 8 RW 6 KELURAHAN BINTORO KECAMATAN DEMAK
KABUPATEN DEMAK
Disusun untuk mengikuti Lomba Karya Tulis Ilmiah Tingkat Guru SMA Se-Kabupaten Demak yang diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan Pemuda dan OlahRaga KabupatenDemak Tahun 2010
oleh :
Nama : SETYO NUGROHO, S.Pd
NIP.19740430 200701 1 008
Unit : SMA Negeri 1 Demak
DINAS PENDIDIKAN KABUPATEN DEMAK
SMA NEGERI 1 DEMAK
TAHUN 2010
BAB I
PENDAHULUAN
A Latar Belakang
Usaha Pemerintah untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat telah banyak dilakukan, beberapa hal usaha yang digalakkan adalah ditingkatkannya sektor industri, pertanian dan pemukiman. Dengan demikian diharapkan taraf hidup masyarakat akan dapat ditingkatkan lagi.
Peningkatan pembangunan disektor pertanian, industri, dan pemukiman ternyata selain berdampak positif bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat ternyata dapat menimbulkan dampak negatif yang lain, diantaranya menyebabkan menurunnya kualitas lingkungan. Salah satu wujud penurunan kualitas perairan sungai. Menurunnya kualitas air sungai disebabkan oleh kegiatan-kegiatan di sektor industri, pertanian dan rumah tangga. Hal ini dikarenakan oleh rendahnya kesadaran sebagian masyarakat terhadap kelesarian lingkungan. Menurut Lase (1991:52) bahwa pengelolaan lingkungan oleh masyarakat Jawa Tengah belum membudaya. Mereka menganggap bahwa masalah ini menjadi tanggung jawab pemerintah. Masalah pencemaran dan munculnya reaksi terhadap dampak negatifnya baru terangkat ke permukaaan apabila sudah mencapai korban.
Di wilayah perdesaan atau perkotaan yang kurang tertata masalah jamban atau WC masih merupakan permasalahan yang pelik dan belum seluruhnya dapat diatasi. Tingginya angka pertumbuhan penduduk dan rendahnya pendapatan masyarakat menyebabkan semakin rumitnya permasalahan penyediaan jamban.Di samping itu, ada faktor yang menyebabkan masyarakat tidak atau belum mempunyai jamban/ wc, di antaranya:
1. Ketidaktahuan masyarakat akan proses pembangunan yang terjadi,karena ada anggapan bahwa semua urusan sanitasi merupakan urusan pemerintah.
2. Masalah budaya, bagi masyarakat yang kebetulan tinggal di pinggiran sungai, saluran irigasi dan kebun, membuang hajat cukup di sungai, saluran dan kebun. Selain tidak mengeluarkan dana juga ada rasa kepuasan tersendiri, walaupun mereka harus berjalan 500-1.500 meter dari rumah.
3. Masalah dana, untuk mendapatkan dana tunai untuk membuat jamban dirasakan sangat sulit, selain belum adanya budaya menabung, penghasilan sehari-hari habis untuk biaya
Berdasarkan pengamatan , air sungai di sepanjang sungai kali Serang mulai dari belakang pasar Bintoro Demak sampai kampung Bong/Jl. Semboja digunakan untuk sarana buang hajat, mandi dan pertanian, secara fisik kondisi air sungainya kurang sesuai dengan syarat-syarat air yang bersih dan sehat. Hal ini bisa dilihat kandungan air sungai yang sudah tercampur dengan bahan pencemar dari limbah pertanian, limbah pasar, tinja manusia, hewan dan lain-lain. Kondisi ini masih diperparah dengan sikap masyarakatnya yang suka buang air besar disepanjang sungai kali Serang tersebut. Oleh karena itu kondisi ini dapat merusak citra positif kota Demak sebagai kota wali yang disebabkan sebagian masyarakatnya yang terbiasa buang air besar di sungai yang kurang memenuhi standar nilai kesehatan, nilai etika dan estetika. Apalagi di wilayah sepanjang sungai kali es termasuk wilayah perkotaan dekat dengan kantor pemerintahan daerah dan merupakan salah satu titik pantau jalur kebersihan kota.
Masalah kesehatan di Indonesia menurut Adam Syamsunir (1979:20) berkisar pada dua hal, yaitu :
1. Masalah kesehatan lingkungan tersebut muncul sebagai akibat masih rendahnya tingkat pendidikan penduduk, masih terikat eratnya masyarakat Indonesia dengan adapt istiadat, kebiasaan, kepercayaan, kultur yang tidak sejalan.
2. Masalah kesehatan tersebut muncul sebagai akibat dari terdapatnya beberapa faktor lingkungan yang jika ditinjau dari segi kesehatan tidak begitu menguntungkan.
Dari pernyataan di atas menunjukkan bahwa pengetahuan, kesadaran mempengaruhi tingkat kebersihan dan kesehatan lingkungan, termasuk kebiasaan buang air besar di sepanjang air sungai. Keadaan ini selaras dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Swandhini (1991:68) bahwa rendahnya sikap dan pengetahuan tentang kebersihan lingkungan cenderung menimbulkan perilaku negatif terhadap penggunaaan air sungai di Sungai Ciliwung .
Berdasarkan pengamatan penduduk Rt 8 RW 6/ Kampung Bong/Jl. Semboja Kelurahan Bintoro Kecamatan Demak di sepanjang sungai kali es yang buang air besar frekuensinya cukup tinggi. Mereka melakukannya pagi , siang dan malam hari. Konsep Community-Lead Total Sanitation (CLTS) telah masuk ke Indonesia. Kini serangkaian uji coba mulai dilaksanakan di beberapa daerah. Konsep tersebut telah sukses mengubah perilaku masyarakat khususnya di Bangladesh dan India yang biasa membuang air besar (BAB) di tempat terbuka pindah ke jamban. Konsep Community-Lead Total Sanitation (CLTS) tergolong baru di Indonesia. Konsep ini 'diimpor'dari India dan Bangladesh yang telah terlebih dahulu melaksanakan, setelah beberapa wakil Indonesia mengunjungi dua Negara tersebut pada akhir 2004. CLTS memiliki tiga tujuan yakni
(i) mengubah perilaku dan meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai kesehatan;
(ii) memberdayakan masyarakat;
(iii) mengurangi tingkat buang air besar (BAB) di daerah terbuka. Berdasarkan pengalaman didua negara itu, CLTS mampu mengubah perilaku dan meningkatkan kesadaran masyarakat dalam waktu yang cukup singkat dibandingkan dengan konsep lainnya. Secara ringkas prosesnya diawali dengan identifikasi kondisi dan fakta mengenai tingkat kesehatan(terutama pola BAB didaerah terbuka) yang ada di desa lokasi program.Kemudian masyarakat diajak untuk berdiskusi mengenai kondisi dan faktatersebutdikaitkan dengan kesehatan, keindahan,atau lainnya. Saat itu masyarakat dihadapkan secara langsung dengan persoalan. Proses ini mempunyai sasaran agar masyarakat
mulai sadar bahwa ternyata selama ini mereka tidak hidup bersih dan sehat dan bertanya bagaimana mengubah kondisi mereka. Kesadaran masyarakat tersebut selanjutnya ditindaklanjuti dengan memberikan informasi sederhana mengenai hal-hal yang dapat dilakukan masyarakat untuk mengatasi kondisi kesehatan di daerahnya.
Berdasarkan pengamatan penduduk Rt 8 RW 6 kampung Bong/Jl. Semboja Kelurahan Bintoro Kec. Demak di sepanjang sungai kali Serang yang buang air besar frekuensinya cukup tinggi. Mereka melakukannya pagi , siang dan malam hari. Oleh karena itu konsep CLTS bisa menjadi alternatif untuk memecahkan masalah perilaku negatif masyarakat yang buang air besar disepanjang sungai kali es tersebut.
B. Pembatasan Masalah
Masalah dalam penelitian ini dibatasi pada beberapa masalah yang berhubungan dengan kebiasaan buang air besar yang dilakukan oleh masyarakat Rt 8 RW 6/ Kampung Bong/Jl. Semboja Kelurahan Bintoro Kecamatan Demak serta penyelesaiannya dengan konsep CLTS.
C. Perumusan Masalah
1. Apakah yang menyebabkan masyarakat Rt 8 RW 6/ Kampung Bong/Jl. Semboja Kelurahan Bintoro di sepanjang sungai kali Serang melakukan kebiasaan buang air besar di sungai kali Serang yang kurang memperhatikan aspek kebersihan dan kesehatan lingkungan
2. Apakah konsep CLTS dapat menjadi alternatif pemecahan masalah penyediaan sarana jamban/wc yang memperhatikan aspek kebersihan dan kesehatan lingkungan.
D. Tujuan penelitian
Tujuan penelitian ini adalah : 1 Untuk mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan kekurangsadaran masyarakat di Rt 8 Rw 6 kampung Bong/Jl. Semboja yang masih air besar di sepanjang sungai kali Serang kelurahan Bintoro, 2. Untuk menjadi pertimbangan dan usulan sekaligus problem solving kepada Pemerintah Daerah Kabupaten Demak menangani sanitasi yang baik bagi perbaikan kebersihan dan kesehatan lingkungan masyarakat.
E. Manfaat penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan kajian dan pertimbangan atau Pilot Project Pemda Kabupaten Demak melalui Dinas Kesehatan, Kantor Kimpraswil, Bappeda dalam pemecahan masalah ketidaksediaan jamban/wc keluarga, air bersih, juga tingkat kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga kebersihan dan kesehatan lingkungan khususnya masyarakat disepanjang kampung Bong/Jalan Semboja Rt 8 RW 6 Kelurahan Bintoro.
Perlu dipikirkan apakah konsep program inovatif CLTS ini dapat dikembangkan atau perlu diwujudkan untuk mendukung ketersedian sarana kebersihan dan kesehatan lingkungan.
BAB II
KERANGKA TEORI DAN KERANGKA BERFIKIR
A. Tinjauan Pustaka
1. Kondisi Masyarakat di RT 8 RW 6 kampung Bong Kelurahan Bintoro
Kampung Bong atau jalan Semboja termasuk wilayah RT 8 RW 6 Kelurahan Bintoro kebanyakan berasal dari masyarakat urban yang kebetulan masih satu RW dengan kantor Pemerintah Daerah kabupaten Demak . Sepintas lalu kita melihat termasuk wilayah perkotaan tersebut cukup indah dan rapi . Bahkan beberapa sanitasi yang dimiliki warga cukup bagus. Namun di balik itu ternyata masih banyak dijumpai keluarga yang sama sekali tidak mempunyai WC keluarga. Mereka ini biasa buang air besar di sungai kali es , sawah, atau selokan pada waktu matahari belum terbit atau setelah matahari terbenam. Aktivitas itu terkadang berbarengan dengan mencuci pakaian atau mandi kalau debet air naik.
Menurut studi penelitian kampong Bong dahulu merupakan kawasan kumuh bahkan termasuk PGOT( Perkumpulan Gelandangan Orang Terlantar ), tahun 1974 oleh Bupati Demak kala itu Bapak Winarno Adi Subrata kawasan itu dijadikan perkampungan dengan mendirikan beberapa rumah sederhana untuk kaum urban pada saat itu. Secara turun temurun baru mulai bertambah penduduknya. Namun ironisnya mereka banyak yang belum mempunyai kelengkapan administrasi, bahkan sampai sudah mempunyai anak dan keturunan, baru oleh pemerintah saat itu dibuatlah perkawinan massal sehingga sampai sekarang kampung Bong sudah tertib administrasi keluarga., misalnya kepemilikan KTP, KK dan Kartu Nikah, namun perlu dipertanyakan kepemilikan sertifikat tanah apakah mereka sudah memiliki sertifikat tanah atau belum. Selain itu kampung Bong juga memiliki citra negatif yang sampai sekarang sulit dihilangkan misalnya dianggap sebagai daerah kampung perselikuhan, perkelahian, miras, pencurian dll. Walaupun tidak semua pelakunya warga kampung Bong tetapi kampung tetangga sebelah namun karena sudah terlanjur memperoleh predikat negatif sehingga sampai sekarang predikat itu masih melekat.
Secara geografis wilayah Rt 8 RW 6 Kampung Bong/ Jalan Semboja Kelurahan Bintoro Kecamatan Demak terletak di sebelah barat jalan Semarang – Demak/ depan pasar Bintoro, disebelah utara bersebelahan dengan kelurahan kalicilik. Sepanjang kawasan itu terdapat sungai kali Serang ( Daerah Aliran Sungai ) yang sejak dahulu dimanfaatkan penduduk untuk kebutuhan hidup sehari-hari. Misalnya untuk mandi, mencuci, buang air besar dan lain-lain. Namun ada fenomena disaat ada ketersediaan air PAM ( terbukti ada Sumur Umbul resmi dari PDAM) dan sarana transportasi yang menunjang di kawasan kampung Bong ternyata kesadaran masyarakat disana akan pentingnya kesadaran etika lingkungan dimana mereka banyak yang buang air besar dan dan kadang mandi di sungai tersebut, apakah dikarenakan kebutuhan akan air bersih dan jamban keluarga belum sepenuhnya dapat dirasakan oleh masyarakat khususnya di sepanjang sungai kali es yang belum sepenuhnya merata atau ada faktor-faktor lain yang mempengaruhi. Di samping itu mayoritas masyarakat di kampung Bong adalah pendatang/ urban yang masih ada yang memanfaatkan kuburan cina sebagai tempat tinggalnya dengan strata ekonomi yang kurang. Hal ini didapatkan dari pengamatan bahwa sedikit sekali masyarakat di sana yang mempunyai jamban keluarga, apalagi sumur artesis sangat sedikit, padahal untuk membuat sumur artesis membutuhkan biaya yang besar serta kedalaman tanah yang relatif tinggi ( > 100 meter ), tetapi anehnya ada juga beberapa penduduk yang sudah mempunyai jamban keluarga tetap saja buang air besar disepanjang sungai kali es
2. Peranan air dalam kehidupan manusia
Sejak dilahirkan manusia hidup dalam lingkungan tertentu yang menjadi wadah makhluk hidup ini yang tidak membutuhkan air.hidup misalnya, baik sel hewan maupun sel tumbuhan tersusun oleh air. Lebih dari 70 % isi sel tumbuhan dan lebih dari 67 % isi sel hewan tersusun oleh air ( Suriawiria, 1985 : 5 ).
Manusia dalam kehidupannya setiap akan selalu membutuhkan air. Air dibutuhkan manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya seperti minum, memasak, membersihkan tubuh dan benda-benda yang dibutuhkan ( Dwijoseputro, 1984 : 173). Jumlah air yang dibutuhkan manusia, berbeda untuk setiap tingkatan kehidupan. Semakin tinggi taraf kehidupan manusia di suatu daerah, semakin meningkat pula jumlah air yang dibutuhkan.
Selain membutuhkan air, manusia juga membutuhkan pangan, udara, permukiman sebagai tempat berlindung dan beristirahat. Tetapi pembangunan juga mempunyai efek negatif yang perlu dicermati manusia. Pembangunan yang berwawasan lingkungan selalu memperhatikan aspek kesehatan lingkungan menjadi tolok ukur keberhasilan pembangunan. Jangan sampai pembangunan hanya menguntungkan pada salah satu golongan saja, akan tetapi berguna untuk seluruh lapisan masyarakat. Bagi mereka yang tinggal di tepi sungai, kebutuhan air tidak hanya dicukupi melalui sumur saja, tetapi sering diambil secara langsung dari sungai. Kenyataan ini menurut Swandhini ( 1991 : 62 ) disebabkan tingkat pendidikan rendah, sehingga tingkat kesadaran tentang pentingnya kebersihan dan kesehatan sanitasi sangat kurang. Berdasarkan pengamatan air sungai kali Serang keruh, berlumpur dan bercampur dengan limbah yang berasal dari pasar Bintoro dan kotoran limbah lain.
3. Parameter Kualitas Kebersihan
Mungkin tidak terlalu jelas dan mudah untuk dipahami, kualitas kebersihan macam apa yang diharapkan muncul dalam suatu penataan lingkungan perkotaan.Jumlah tempat sampah rumah yang tersedia, jumlah tempat sampah di tepijalan, frekuensi pengumpulan dan pengangkutan sampah, keterkumpulan dan keterangkutan sampah, hingga kebersihan sungai yang melalui suatu kawasan merupakan sebagian parameter yang dapat diukur untuk melakukan kuantifikasi dari tingkat kebersihan.
Namun, setiap kawasan atau kota,juga memiliki batasan tertentu dalam system penanganan sampah yang mendukung kebersihan. Batasan utama haruslah didasarkan atas ketersediaan dana untuk penanganan sistem persampahannya. Sejauh masyarakat mampu dan mau untukmembayar retribusi sampah sesuai dengan kualitas kebersihan yang diinginkan,menjadi tugas pemerintah untuk memformulasikan kuantifikasi kebersihan yang diinginkan oleh masyarakat tersebut. Hal ini dapat diukur dengan membuat suatu perhitungan keadaan ideal,mengenai berapa jumlah dana yang dibutuhkan untuk melakukan investasi sistem kebersihan yang terpadu. Mengingat kampung Bong termasuk wilayah perkotaan sungguh disayangkan apabila penanganan sampah atau limbah yang mencemari aliran sungai kali es semakin menambah tingkat pencemaran sungai tersebut hidupannya.
4. Pengelolaan jamban
Sebagai akibat dari proses metabolisme yang berlangsung dalam tubuh manusia,terjadi pemisahan dan pembuangan zat-zat yang tidak dibutuhkan oleh tubuh, diantaranya berbentuk tinja (feces) dan air seni ( urine ). Jika dalam pembuangan kedua zat tersebut tidak baik, tentu dapat mencemari lingkungan. Untuk itu perlu adanya tempat penampungan yang memenuhi syarat kesehatan. Salah satu tempat penampungan yang baik adalah jamban keluarga atau wc. Jamban adalah sarana kebersihan yang sederhana, terdiri dari pelat jongkok dengan pipa leher angsa yang dilengkapi dengan saluran pembuangan berupa cubluk ( Direktorat Penyehatan Lingkungan Pemukiman, 1990 : 15 ).
Ada beberapa jenis jamban yang dapat digunakan oleh masyarakat, misalnya jamban leher angsa, jamban cubluk, jamban empang dan jamban kimia. Akan tetapi yang sesuai dengan syarat kesehatan dan sesuai untuk digunakan oleh masyarakat ada dua macam,yaitu : jamban leher angsa dan jamban cemplung.
Jamban leher angsa, yaitu wc dimana leher lubang closet berbentuk lengkungan yang selalu terisi air yang berguna untuk mencegah bau kotoran serta masuknya kotoran-kotoran kecil. Jamban model ini dilengkapi dengan lubang penampung dan lubang rembesan yang disebut septic tanc. WC ini adalah model terbaik yang dianjurkan, sedangkan jamban cemplung, yaitu jamban dimana tempat injakan atau di bawah bangunan kakus. Jamban model ini ada yang mengandung air berupa sumur-sumur yna banyak ditemui di pedesaan, ataupun yang tidak mengandung air seperti kaleng, tong, lubang tanah yang tidak berair ( Azwar, 1978 : 76-77)
5. Kebiasaan buang air besar di sungai
Kebiasaan adalah reaksi otomatis terhadap situasi khusus yang biasanya diperoleh sebagai hasil ulangan atau belajar ( Drever dalam Simanjutak, 1988). Menurut Hull dan Wolman, 1974), kebiasaan adalah suatu pola perilaku yang menetap yang terjadi berdasarkan hukum reinforcement. Eysenk ( 1975 ) berpendapat bahwa kebiasaan adalah suatu pola perilaku kondisi, atau situasi tertentu yang terbentuk melalui proses belajar. Dasar pembentukan kebiasaan adalah pengulangan respon yang disengaja. Kebiasaan penting untuk penyesuaian diri dan merupakan sesuatu yang sangat unik dan mantap yang selanjutnya mencapai functional autonomy. Dengan demikian kebiasaan merupakan sesuatu yang bebas dari motivasi, yang menyebabkan kebiasaan itu mengembangkan kualitas dinamis seseorang.
Kebiasaan buang air besar juga merupakan suatu perilaku yang terjadi pada seseorang atau masyarakat yang memberikan image positif bagi yang bersangkutan. Jadi seseorang atau masyarakat yang terbiasa dengan buang air besar di sungai dipengaruhi rasa puas, bebas, nyaman akan cenderung mengulang aktifitas tersebut. Pengulangan inilah yang akhirnya membentuk suatu kebiasaan.
6. Konsep Community-Lead Total Sanitation (CLTS)
Konsep Community-Lead Total lSanitation (CLTS) tergolong baru di Indonesia. Konsep ini 'diimpor'dari India dan Bangladesh yang telah terlebih dahulu melaksanakan,setelah beberapa wakil Indonesia mengunjungi dua negara tersebut pada akhir 2004. CLTS memiliki tiga tujuan yakni :
(i)mengubah perilaku dan meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai kesehatan;
(ii) memberdayakan masyarakat;
(iii) mengurangi tingkat buang air besar (BAB) di daerah terbuka. Berdasarkan pengalaman didua negara itu, CLTS mampu mengubah perilaku dan meningkatkan kesadaran masyarakat dalam waktu yang cukup singkat dibandingkan dengan konsep lainnya. Secara ringkas prosesnya diawali dengan identifikasi kondisi dan fakta mengenai tingkat kesehatan (terutama pola BAB di daerah terbuka) yang ada di desa lokasi program. Kemudian masyarakat diajak untuk berdiskusi mengenai kondisi dan fakta tersebut dikaitkan dengan kesehatan, keindahan,atau lainnya. Saat itu masyarakat dihadapkan secara langsung dengan persoalan. Proses ini mempunyai sasaran agar masyarakat mulai sadar bahwa ternyata selama ini mereka tidak hidup bersih dan sehat dan bertanya bagaimana mengubah kondisi mereka. Kesadaran masyarakat tersebut selanjutnya ditindaklanjuti dengan memberikan informasi sederhana mengenai hal-hal yang dapat dilakukan masyarakat untuk mengatasi kondisi kesehatan di daerahnya. Konsep ini cukup bagus karena pemicuan tidak memerlukan intervensi dana sama sekali. Hanya saja, konsep ini perlu diuji di lapangan mengingat kondisi budaya India dan Bangladesh dibandingkan masyarakat Indonesia tak bisa disamakan begitu saja. Dalam rangka itu, perlu dibentuk pokja-pokja yang membantu dalam penanganan kesadaran masyarakat supaya tidak buang air besar dan sebisa mungkin menyediakan jamban keluarga. Mungkin penanganan pokja ini bisa menjadi percontohan nantinya di kabupaten Demak yang mayoritas pedesaannya banyak daerah aliran sungai. Kunci penerapan CLTS ini adalah keberadaan natural leader/penggerak yang mumpuni sehingga bisa memicu dan menjaga semangat masyarakatnya, adanya pengawasan terus menerus kepada masyarakat, dan insentif-misalnya berupa kebanggaan bagi masyarakat yang terpicu.Memang dari sisi pemicuan agar masyarakat memiliki jamban, pendekatanini cukup sukses. Tentu pendekatan ini tidak ditujukan Cuma Lubang Tahi Saja, mengingat masih banyak hal yang terkait dengan kesehatan lingkungan.
B. Hipotesis
Berdasarkan dasar teori yang telah dikemukakan penulis mengajukan hipotesis sebagai berikut :
1. Adanya kekurangsadaran dikalangan masyarakat kampung Bong/ Jalan Semboja Rt 8 Rw 6 Kelurahan Bintoro yang buang air besar di sungai kali Serang terhadap dampaknya bagi kebersihan dan kesehatan lingkungan.
2. Konsep Community-Lead Total Sanitation (CLTS) dapat menjadi salah satu alternatif pemecahan sanitasi buruk di lingkungan tersebut.
3.
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
Penelitian ini mencoba untuk mengetahui faktor-faktor kendala apa yang dapat dijumpai pada masyarakat di kampung bong jalan semboja Rt 8 Rw 6 yang masih buang air besar di sepanjang sungai kali Serang kelurahan Bintoro demak, serta menawarkan konsep Community-Lead Total Sanitation (CLTS) bagi pemecahannya.
A. Setting
1. Populasi
Penelitian ini dilaksanakan di kampung Bong Rt 8 RW 6 yang sebagian besar wilayahnya di depan sungai kali Serang. Agar lebih jelas kriteria ini diambil karena berbagai faktor :
1. mereka relatif lebih sering menggunakan sungai kali es untuk buang air besar
2. wilayah Rt 8 Rw 6 kampung bong/jalan semboja kelurahan bintoro terletak tepat di depan air sungai
3. jumlah data seluruhnya dapat mewakili seluruh populasi yang menggunakan sungai kali es tersebut untuk buang air besar
Berdasarkan survey pendahuluan poulasi Rt 8 Rw 6 sebesar 54 KK.
2. Sampel
Karena jumlah anggota populasi dalam penelitian ini kurang dari 100 maka menurut Suharsimi Arikunto (1993), apabila subyek penelitian kurang dari 100 maka diambil semuanya dari populasi . Jadi dalam rencana penelitian ini sample ditetapkan 54 KK . Teknik yang dipakai adalah teknik keseluruhan populasi, yang berguna untuk mendapatkan populasi yang lengkap, yaitu dilakukan secara langsung. Dengan tujuan agar semua anggota populasi memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi objek penelitian.
B.Variabel penelitian
Dalam penelitian ini ada dua variabel yaitu variabel bebas terdiri dari konsep CLTS dan variabel terikat terkait dengan kebiasaan buang air besar
C. Teknik pengumpulan data
1. Metode angket
Angket yang digunakan berupa sejumlah pertanyaan tertulis yang diberikan kepada responden untuk memperoleh data tentang kebiasaan buang air besar. Angket yang digunakan dalam penelitian ini berupa angket bentuk skala, yaitu berupa butir-butir pertanyaan yang disertai alternative jawaban berupa pendapat. Cara penyusunannya berdasarkan usulan Esysenck dan Cown yaitu kombinasi antara model Thurstone dan Likert. Pemberian skor untuk mengetahui tentang kebiasaan buang air besar didasarkan pada skala Guttman. Indikator untuk ubahan ini ada ya atau tidak diberi skor 1 dan tidak 2 apabila pernyataa negative.
2. Metode dokumentasi
Metode ini digunakan peneliti untuk menambah sumber referensi yang diperlukan yaitu data kongkrit jumlah penduduk, pendidikan, pendapatan, denah wilayah kampung Bong khususnya yang dekat dengan aliran sungai kali es.
3. Metode Interview
Metode ini dilakukan untuk mengambil data yang mendukung sekaligus nara sumber yang berkompeten untuk mensinkronkan konsep penelitian bagi solusi pemecahan masalah sanitasi khusunya program CLTS di BAPEDDA, KIMPRASWIL , Dinas Kesehatan Kabupaten Demak.
4. Lembar Observasi
Lembar observasi ini digunakan sebagai bahan penunjang dan pelengkap data yang diperoleh. Adapun lembar observasi ini dikembangkan sedemikian rupa sehingga dapat diperoleh kevalidan data di lapangan.
D Metode Analisis Data
1. Analisis deskriptif prosentase
Analisis deskriptif prosentase bertujuan untuk memperoleh gambaran tentang suatu keadaan atau suatu status fenomena ( Suharsimi Arikunto, 1986 : 195 ). Data yang berupa angka dijumlah pada setiap kelompoknya kemudian diolah menjadi bentuk prosentase.
Proses analisis data dimulai dengan menelaah data dari dokumen, kemudian memilah-milahnya ke dalam table. Adapun penentuan indeks persentase dihitung dengan rumus persentase sebagai berikut :
% = n x 100 %
N
Keterangan :
% : persentase nilai yang diperoleh
n : skor yang diperoleh
N : skor maksimal/skor ideal
Menurut Suharsimi Arikunto ( 1986:196 ), visualisasi data sangat mempermudah peneliti dan orang lain untuk memahami hasil penelitian
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
1. Kondisi Umum Daerah Penelitian
Hasil Penelitian diawali dengan deskripsi daerah penelitian. Adapun hal-hal yang perlu diungkap seperti di bawah ini :
a. Keadaan masyarakat di kampung Bong/Jalan Semboja Rt 8 Rw 6 Kelurahan Bintoro menurut tingkat pendidikan
Menurut hasil angket yang disebarkan tingkat pendidikan responden yang paling banyak adalah tamat SD sebesar 54 % ( 29 KK ), tidak tamat sekolah 41 % ( 22 KK) dan tamat SMP 0,03 % ( 2 KK ), tamat SMA 0,01 % ( 1 KK). Agar lebih jelas dapat dilihat pada Tabel I
Tabel I Tingkat Pendidikan formal masyarakat kampung Bong/Jalan Semboja Kelurahan Bintoro Kec. Demak
No. Jenis Pend. Formal Jumlah Prosentase
1. Belum Sekolah - -
2. Tidak sekolah - -
3. Tidak tamat SD 22 41 %
4. Tamat SD/sederajat 29 54 %
5. Tamat SMP/sederajat 2 0,04 %
6. Tamat SMA/sederajat 1 0,01 %
7. Tamat PT/Akademi - -
Jumlah 54 100 %
Sumber : Data Rt 8 RW 6 Kelurahan Bintoro Tahun 2008
b. Keadaan Masyarakat menurut Mata Pencaharian
Menurut hasil penelitian mata pencaharian responden terbesar adalah tukang becak sebesar 27 KK ( 50 % ), pemulung 15 KK ( 27 % ) dan buruh bangunan 2 orang ( 0,04 % ), PNS 1 KK ( 0,01 % ). Agar lebih jelas dapat dilihat pada tabel II, sebagai berikut :
No Jenis Mata Pencaharian Jumlah Presentase
1. Tukang becak 27 50 %
2. Pemulung 15 27 %
3. Buruh pabrik 3 0,05 %
4. Buruh bangunan 2 0,04 %
5. PRT 1 0,01 %
6. Pedagang 2 0,04 %
7. PNS 1 0,01 %
8. Perangkat desa 1 0,01 %
9. Lain-lain 2 0,04 %
10 Jumlah 54 100 %
Sumber : Data Rt 8 Rw 6Kampung Bong/Jalan Semboja Kelurahan Bintoro Demak
Dari tabel II, diatas maka dapat diketahui bahwa sebagian besar penduduk kampong Bong Jalan Semboja Kelurahan Bintoro bermata pencaharian sebagai tukang becak sebanyak 27 KK ( 50 % , dan pemulung sebanyak 15 KK ( 27 % ) serta sektor lainnya hanya sebagian kecil.
c. Jumlah pendapatan masyarakat kampung Bong
Menurut hasil penelitian jumlah pendapatan masyarakat/responden cenderung rendah yaitu kurang dari Rp. 500.000 sebesar 81 % ( 44 KK ) dan hanya 19 % ( 10 KK ) yang jumlah pendapatannya sedang yaitu antara Rp. 750.000 s/d Rp. 1500.000. Perhitungan dapat dilihat pada lampiran III.
D. Keadaan penduduk menurut kepemilikan WC
Menurut hasil penelitian kepemilikan WC pribadi cenderung rendah yaitu 10 KK ( 18 % ) sedangkan sisanya adalah tidak mempunyai WC pribadi 44 KK ( 82 %) .
B. Pembahasan
Pada tabel I Keadaan penduduk Rt 8 Rw 6 kampung bong/ Jl. Semboja Kelurahan Bintoro menurut tingkat pendidikan dapat diamati bahwa pendidikan formal masyarakatnya tertinggi adalah hanya tamat SD/sederajat (54 %) sehingga kesadaran tentang kebiasaan buang air besar yang negative masih sangat kurang. Sebenarnya di tiap pertemuan rutin RT 8 sering disinggung atau lewat pengajian namun sulit sekali karena alasan dana dan karakteristik khas warganya. Di samping itu kegiatan pokja dasa wisma kebanyakan hanya diikuti oleh ibu-ibu yang sudah tua sementara yang masih usia produktif banyak yang bekerja sehingga kurang mencapai sasaran. Kondisi ini dapat dieliminir dengan pendekatan CLTS yang komprehensip jika tingkat pencapaian sasaran target terpenuhi namun terbentur kendala yaitu kekurangsadaran masyarakatnya akan pentingnya kesehatan lingkungan.
Pada tabel II Keadaan masyarakat menurut mata pencaharian terlihat bahwa sebagian besar masyarakat berprofesi sebagai tukang becak ( 50 % ) dan pemulung ( 27 % ) berarti kondisi ini dapat memperkuat tafsiran bahwa mereka umumnya dalam kondisi miskin sehingga untuk dapat memikirkan aspek kebutuhan air yang bersih belum menjadi program utama. Bahkan walaupunberstatus sebagai tukang becak kenyataannya para bapak banyak yang menganggur dan justru para istri yang bekerja relatif tetap misalnya menjadi PRT, Jadi jika para suami mempunyai pendapatan rata-rata kurang dari Rp. 500.000 dan para istri kurang dari 150.000 ( karena hanya jadi buruh cuci dll). Dapat dibayangkan betapa sulitnya perekonomian mereka untuk sekadar mengurusi masalah jamban keluarga. Berdasarkan hasil studi, dari seluruh keluarga di wilayah Rt 8 Rw 6/Kampung Bong sebanyak 18 persen mempunyai WC pribadi ( 10 KK ) dan sisanya 82 persen tidak mempunyai ( 44 KK). Dari mereka yang tidak punya WC, 37 KK buang air besar di sungai kali es (84 persen), dan ikut buang di WC tetangga yang baik hati 7 KK (16 persen), Kemudian sebanyak 92 persen di kali, 0,05 persen dikolam/blumbang, dan 0,03 persendi tempat lain seperti kebun, pekarangan,
dan sebagainya. Jumlah hajat yang langsung di buang ke sungai kali cukup mencemari . Bila setiap hari manusia buang hajat 0,2 kg, maka akan ada 7,4 kgper hari yang dibuang langsung ke sungai/alam bebas atau 222 kg per bulan (kira-kira 1 truk penuh-hajat). Beberapa alasan mendasari mengapa
warga kampung Bong tidak membangun jamban/WC pribadi:
Alasan utama:
Kesulitan investasi awal karena untuk membuat jamban dibutuhkan biaya lebih dari 1 juta
Tidak ada tempat
Alasan lain:
Belum mapan
Begini sudah cukup
Lain- Lain
Konsep CLTS dapat dikembangkan disini walaupun untuk pengadaan dan Diversifikasi Sumur PDAM tahun 2008 sudah diajukan oleh Pemkab melalui Kantor Bappeda dengan prioritas adalah 9 desa yaitu desa Jetak wedung, Mutih kulon Wedung, Solourip Kebonagung, Doreng Wonosalam, Tlogorejo Karangawen, Pundenarum Guntur, Banyumeneng Mranggen, Karangasem Sayung. Bahkan Proyek ini rencananya akan dilaksanakan oleh Dinas Kimpraswil ( Sumber : Bappeda dan Kimpraswil Kab. Demak tahun 2008 ). Namun sungguh disayangkan proyek ini belum menyentuh di kampung Bong yang nota bene daerah perkotaan dan sangat membutuhkan. Apalagi untuk menangani masalah etika dan norma masyarakat yang buang air besar di sana. Dari hasil survey kebanyakan masyarakat setuju apabila konsep CLTS dapat diterapkan pada pengadaan jamban keluarga dengan konsep 3 in 1 atau 3 closet 1 septic tank, artinya bisa ditanggung 3 KK dengan masing-masing mempunyai 3 closet tetapi cukup 1 septic tank saja sudah sangat membantu, di samping itu warga mau mengkredit mikro tanpa bunga atau jika ada bunga cukup sedikit saja dan tidak memberatkan. Memang bantuan dari BKM kurang lebih 4 bulan yang lalu sudah dapat dinikmati masyarakat namun kebanyakan digunakan untuk kredit usaha kecil dan belum ada yang menyentuh ke permasalahan jamban keluarga.
Data dari hasil perhitungan etika dan estetika dari angket diperoleh data presentase, responden yang memiliki rasa malu ( 97 % ), tidak malu (3 %), jijik ( 31 % ), tidak jijik ( 69 % ). Jadi menurut pandangan mereka kebiasaan buang air besar di sungai kali es merupakan rutinitas yang biasa mereka terpaksa dilakukan tapi aneh mereka tidak jijik terhadap keadaan tersebut. Hal diperkuat dari keterangan sebagian besar warga kampung Bong Rt 8 Rw 6 yang buang air besar pada pagi sekitar jam 5 dan malam jam 19.00. Walaupun pada siang hari ada yang buat hajat di sungai tersebut namun intensitasnya sangat sedikit. Ini membuktikan bahwa mereka relative malu buang hajat dilihat oleh orang lain. Atau dapat disimpulkan kebiasaan buang air besar ini terpaksa dilakukan karena berbagai hal sejak dulu dan turun temurun. Tidak kurang sindiran halus sering diungkapkan oleh para pemuka kampung Bong, namun sampai sekarang belum efektif karena kompleksitas permasalahannya. Walaupun sudah ada sumur PDAM yang dapat dimanfaatkan oleh masyrakat di sana namun umumnya hanya untuk keperluan memasak , mandi/ sebagian dan air minum saja sedangkan buang air besar sebagian besar masyarakat tetap melakukannya. Apabila CLTS ini bisa diterapkan setidaknya sedikit demi sedikit kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga kebersihan dan kesehatan lingkungan akan tercipta.
BAYI TABUNG @ INSEMINASI BUATAN
Posted on Agust 1th, 2010 by Setyo Nugroho
Setelah Dr. Patrick Steptoe dan Dr. Robert Edwards pada tahun 1978 berhasil melakukan teknik spektakuler “fertilisasi in vitro”, dunia kedokteran mengalami perkembangan yang sangat pesat dan mengagumkan dalam penanganan masalah infertilitas dan di bidang rekayasa genetika manusia. Teknik yang selanjutnya dikenal dengan istilah “Bayi Tabung” ini berkembang ke seluruh dunia termasuk di Indonesia.
Istilah Bayi Tabung ( tube baby) dalam bahasa kedokteran dikenal dengan sebutan “In Vitro Fertilization and Embryo Transfer” (IVF-ET)
Teknik Bayi Tabung diperuntukkan bagi pasangan suami isteri yang mengalami masalah infertilitas. Pasien Bayi Tabung umumnya wanita yang menderita kelainan sebagai berikut : (1) kerusakan pada saluran telurnya, (2) lendir rahim isteri yang tidak normal, (3) adanya gangguan kekebalan dimana terdapat zat anti terhadap sperma di tubuh isteri, (4) tidak hamil juga setelah dilakukan bedah saluran telur atau seteleh dilakukan pengobatan endometriosis, (5) sindroma LUV (Luteinized Unruptured Follicle) atau tidak pecahnya gelembung cairan yang berisi sel telur, dan (6) sebab-sebab lainnya yang belum diketahui. Sedangkan pada suami, teknik ini diperuntukkan bagi mereka yang pada umumnya memiliki kelainan mutu sperma yang kurang baik, seperti oligospermia atau jumlah sperma yang sangat sedikit sehingga secara alamiah sulit diharapkan terjadinya pembuahan.
Setelah sperma dan sel telur dicampur didalam tabung di luar rahim (in vitro), kemudian hasil campuran yang berupa zygote atau embrio yang dinyatakan baik dan sehat itu ditransplantasikan ke rahim isteri atau rahim orang lain. Secara medis, zigot itu dapat dipindahkan ke rahim orang lain. Hal ini disebabkan karena rahim isteri mengalami gangguan antara lain : (1) kelainan bawaan rahim (syndrome rokytansky), (2) infeksi alat kandungan, (3) tumor rahim, dan (4) Sebab operasi atau pengangkatan rahim yang pernah dijalani. Adapun teknik Inseminasi Buatan lebih disebabkan karena faktor sulitnya terjadi pembuahan alamiah karena sperma suami yang lemah atau tidak terjadinya pertemuan secara alamiah antara sperma dan sel telur.
Secara ringkas, hukum teknik Bayi Tabung dan Inseminasi Buatan terhadap manusia dapat dilihat pada table berikut ini :
No Nama Teknik / Jenis Teknik Sperma Ovum Media Pembuahan Hukum Alasan/
Analogi hukum
1 Bayi Tabung (IVF-ET) Jenis I Suami Isteri Rahim Isteri Halal Tidak melibatkan
orang lain
2 Bayi Tabung (IVF-ET) Jenis II Suami Isteri Rahim orang lain/ titipan/ sewaan Haram Melibatkan orang lain dan dianalogikan dengan zina
3 Bayi Tabung (IVF-ET) Jenis III Suami Orang lain/ donor/ bank ovum Rahim Isteri Haram Melibatkan orang lain dan dianalogikan dengan zina
4 Bayi Tabung (IVF-ET) Jenis IV Suami Orang lain/ donor/ bank ovum Rahim orang lain/ titipan /sewaan Haram Melibatkan orang lain dan dianalogikan dengan zina
5 Bayi Tabung (IVF-ET) Jenis V Orang lain/ donor/ bank sperma Isteri Rahim Isteri Haram Melibatkan orang lain dan dianalogikan dengan zina
6 Bayi Tabung (IVF-ET) Jenis VI Orang lain/ donor/ bank sperma Isteri Rahim orang lain/ titipan/ sewaan Haram Melibatkan orang lain dan dianalogikan dengan zina
7 Bayi Tabung (IVF-ET) Jenis VII Orang lain/ donor/ bank sperma Orang lain/ donor/ bank ovum Rahim isteri sebagai titipan / sewaan Haram Melibatkan orang lain dan dianalogikan dengan zina
8 Bayi Tabung (IVF-ET) Jenis VIII Suami Isteri Isteri yang lain (isteri ke dua, ketiga atau keempat) Haram Melibatkan orang lain dan dianggap membuat kesulitan dan mengada-ada
9 Inseminasi Buatan dengan sperma suami (Arificial Insemination by a Husband = AIH) Suami Isteri Rahim Isteri Halal Tidak melibatkan orang lain
10 Inseminasi Buatan dengan sperma donor (Arificial Insemination by a Donor = AID) Donor Isteri Rahim Isteri Haram Melibatkan orang lain dan dianalogikan dengan zina
Dari table tampak jelas bahwa teknik bayi tabung dan inseminasi buatan yang dibenarkan menurut moral dan hukum Islam adalah teknik yang tidak melibatkan pihak ketiga serta perbuatan itu dilakukan karena adanya hajat dan tidak untuk main-main atau percobaan. Sedangkan teknik bayi tabung atau inseminasi buatan yang melibatkan pihak ketiga hukumnya haram.
Alasan syar’i tentang haramnya keterlibatan (benih atau rahim) pihak ketiga tersebut merujuk kepada maksud larangan berbuat zina (lihat al-Qur’an, antara lain Surat Al-Isrâ [17] : 32). Secara filosofis larangan zina itu didasarkan atas dua hal. Pertama, “tindakan melacur” (al-fujûr, al-fâ?isyah) dan kedua, akibat tindakan itu dapat menyebabkan kaburnya keturunan (ikhtilâth al-ansâb).
Rasulullah menyatakan yang artinya :
Tidak ada dosa lebih berat dari perbuatan syirik (menyekutukan Tuhan) melainkan dosa seseorang yang mentransplantasikan “benih” kepada rahim wanita yang tidak halal baginya.
Dalam hal pihak ketiga merupakan isteri sah, maka para ulama dalam hal ini menolaknya karena bertentangan dengan maksud ayat Al-Qur’an :
Dan janganlah kalian menjatuhkan dirimu sendiri dalam kebinasaan. [QS. Al-Baqarah (2) : 195 ].
Teknologi rekayasa genetika lain yang masih menjadi perdebatan moral yang cukup sengit di kalangan agamawan dan kaum moralis di seluruh dunia adalah “Teknologi Kloning” pada manusia. Pada umumnya, ulama di negara-negara muslim masih melarang pengkloningan pada manusia. Hal ini lebih dikarenakan kehati-hatian mereka dalam menentukan proses keberadaan manusia yang direkayasa oleh manusia lainnya.
Masalah lain yang dilarang menurut moral dan hukum Islam adalah teknologi “Post Mortem - Fertilization” , yakni pelelehan zygote atau embrio yang telah lama disimpan dan dibekukan di dalam “tabung pengawet” dari hubungan sah suami isteri, namun trnsplantasi zygote dilakukan terhadap isteri yang memiliki zygote itu setelah suaminya meninggal dunia atau setelah terjadinya perceraian.
Pengertian Dan Tujuan Inseminasi Buatan
Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini berkembang sangat besar. Manusia mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan menggunakan rasa, karsa dan daya cipta yang dimiliki. Salah satu bidang iptek yang berkembang pesat dewasa ini adalah teknologi reproduksi. Teknologi reproduksi adalah ilmu reproduksi atau ilmu tentang perkembangbiakan yang menggunakan peralatan serta prosedur tertentu untuk menghasilkan suatu produk (keturunan). Salah satu teknologi reproduksi yang telah banyak dikembangkan adalah inseminasi buatan. Inseminasi buatan merupakan terjemahan dari artificial insemination yang berarti memasukkan cairan semen (plasma semen) yang mengandung sel-sel kelamin pria (spermatozoa) yang diejakulasikan melalui penis pada waktu terjadi kopulasi atau penampungan semen.
Berdasarkan pengertian di atas, maka definisi tentang inseminasi buatan adalah memasukkan atau penyampaian semen ke dalam saluran kelamin wanita dengan menggunakan alat-alat buatan manusia dan bukan secara alami. Namun perkembangan lebih lanjut dari inseminasi buatan tidak hanya mencangkup memasukkan semen ke dalam saluran reproduksi wanita, tetapi juga menyangkut seleksi dan pemeliharaan sperma, penampungan, penilaian, pengenceran, penyimpanan atau pengawetan (pendinginan dan pembekuan) dan pengangkutan semen, inseminasi, pencatatan, dan penentuan hasil inseminasi pada manusia dan hewan. Adapun tujuan dari inseminasi buatan adalah sebagai suatu cara untuk mendapatkan keturunan bagi pasutri yang belum mendapat keturunan.
Mengapa inseminasi buatan dilakukan?
Hadirnya seorang anak merupakan tanda dari cinta kasih pasangan suami istri, tetapi tidak semua pasangan dapat melakukan proses reproduksi secara normal. Sebagian kecil diantaranya memiliki berbagai kendala yang tidak memungkinkan mereka untuk memiliki keturunan.
Inseminasi buatan pertama kali dilakukan pada manusia dengan menggunakan sperma dari suami telah dilakukan secara intravagina pada tahun 1700 di Inggris. Sophia Kleegman dari Amerika Serikat adalah salah satu perintis yang menggunakan inseminasi buatan dengan sperma suami ataupun sperma donor untuk kasus infertilitas. Pada wanita kendala ini dapat berupa hipofungsi ovarium, gangguan pada saluran reproduksi dan rendahnya kadar progesterone. Sedangkan pada pria berupa abnormalitas spermatozoa kriptorkhid, azoospermia dan rendahnya kadar testosteron. Selain untuk memperoleh keturunan, faktor kesehatan juga merupakan fokus utama penerapan teknologi reproduksi. Sebagai contoh kasus:
Di Colorado Amerika Serikat pasangan Jack dan Lisa melakukan program inseminasi, bukan semata-mata untuk mendapatkan keturunan tetapi karena memerlukan donor bagi putrinya Molly yang berusia 6 tahun yang menderita penyakit fanconi anemia, yaitu suatu penyakit yang disebabkan oleh tidak berfungsinya sumsum tulang belakang sebagai penghasil darah. Jika dibiarkan akan menyebabkan penyakit leukemia. Satu-satunya pengobatan adalah melakukan pencangkokan sumsum tulang dari saudara sekandung, tetapi masalahnya Molly anak tunggal. Yang dimaksud inseminasi disini diterapkan untuk mendapatkan anak yang bebas dari penyakit fanconi anemia agar dapat diambil darahnya sehingga diharapkan akan dapat merangsang sumsum tulang belakang Molly untuk memproduksi darah.
Teknik Inseminasi
1. Teknik IUI (Intrauterine Insemination)
Teknik IUI dilakukan dengan cara sperma diinjeksikan melalui leher rahim hingga ke lubang uterine (rahim).
2. Teknik DIPI (Direct Intraperitoneal Insemination)
Teknik DIPI telah dilakukan sejak awal tahun 1986. Teknik DIPI dilakukan dengan cara sperma diinjeksikan langsung ke peritoneal (rongga peritoneum).
Teknik IUI dan DIPI dilakukan dengan menggunakan alat yang disebut bivalve speculum, yaitu suatu alat yang berbentuk seperti selang dan mempunyai 2 cabang, dimana salah satu ujungnya sebagai tempat untuk memasukkan/menyalurkan sperma dan ujung yang lain dimasukkan ke dalam saluran leher rahim untuk teknik IUI, sedangkan untuk teknik DIPI dimasukkan ke dalam peritoneal. Jumlah sperma yang disalurkan/diinjeksikan kurang lebih sebanyak 0,5–2 ml. Setelah inseminasi selesai dilakukan, orang yang mendapatkan perlakuan inseminasi tersebut harus dalam posisi terlentang selama 10–15 menit.
Sumber Sperma
Ada 2 jenis sumber sperma yaitu:
1. Dari sperma suami
Inseminasi yang menggunakan air mani suami hanya boleh dilakukan jika jumlah spermanya rendah atau suami mengidap suatu penyakit. Tingkat keberhasilan AIH hanya berkisar 10-20 %. Sebab-sebab utama kegagalan AIH adalah jumlah sperma suami kurang banyak atau bentuk dan pergerakannya tidak normal.
2. Sperma penderma
Inseminasi ini dilakukan jika suami tidak bisa memproduksi sperma atau azoospermia atau pihak suami mengidap penyakit kongenital yang dapat diwariskan kepada keturunannya. Penderma sperma harus melakukan tes kesehatan terlebih dahulu seperti tipe darah, golongan darah, latar belakang status physikologi, tes IQ, penyakit keturunan, dan bebas dari infeksi penyakit menular. Tingkat keberhasilan Inseminasi AID adalah 60-70 %.
Penyiapan sperma
Sperma dikumpulkan dengan cara marturbasi, kemudian dimasukkan ke dalam wadah steril setelah 2-4 hari tidak melakukan hubungan seksual. Setelah dicairkan dan dilakukan analisa awal sperma, teknik “Swim-up” standar atau “Gradient Percoll” digunakan untuk persiapan penggunaan larutan garam seimbang Earle atau Medi. Cult IVF medium, keduanya dilengkapi dengan serum albumin manusia. Dalam teknik Swim-up, sampel sperma disentrifugekan sebanyak 400 g selama 15 menit. Supernatannya dibuang, pellet dipisahkan dalam 2,5 ml medium, kemudian disentrifuge lagi. Sesudah memisahkan supernatannya, dengan hati-hati pellet dilapisi dengan medium dan diinkubasi selama 1 jam pada suhu 37º C. Sesudah diinkubasi, lapisan media yang berisi sperma motile dikumpulkan dengan hati-hati dan digunakan untuk inseminasi.
Pada teknik Percoll, sperma dilapiskan pada Gradient Percoll yang berisi media Medi. Cult dan disentrifugekan sebanyak 500 g selama 20 menit. 90 % dari pellet kemudian dipisahkan dalam 6 ml media dan disentrifugekan lagi sebanyak 500 g selama 10 menit. Pellet sperma kemudian dipisahkan dalam 0,5 atau 1 ml medium dan digunakan untuk inseminasi.
Analisis Kualitas Sperma
Pemeriksaan Laboratorium Analisis Sperma dilakukan untuk mengetahui kualitas sperma, sehingga bisa diperoleh kualitas sperma yang benar-benar baik. Penetapan kualitas ekstern di dasarkan pada hasil evaluasi sampel yang sama yang dievaluasi di beberapa laboratorium, dengan tahapan-tahapan: Pengambilan sampel, Penilaian Makroskopik, Penialain Mikroskopis, Uji Biokimia, Uji Imunologi, Uji mikrobiologi, Otomatisasi, Prosedur ART, Simpan Beku Sperma.
Resiko Injeksi Sperma
Dalam pembuahan normal, antara 50.000-100.000 sel sperma, berlomba membuahi 1 sel telur. Dalam pembuahan normal, berlaku teori seleksi alamiah dari Charles Darwin, dimana sel yang paling kuat dan sehat adalah yang menang. Sementara dalam inseminasi buatan, sel sperma pemenang dipilih oleh dokter atau petugas labolatorium. Jadi bukan dengan sistem seleksi alamiah. Di bawah mikroskop, para petugas labolatorium dapat memisahkan mana sel sperma yang kelihatannya sehat dan tidak sehat. Akan tetapi, kerusakan genetika umumnya tidak kelihatan dari luar. Dengan cara itu, resiko kerusakan sel sperma yang secara genetik tidak sehat, menjadi cukup besar.
Belakangan ini, selain faktor sel sperma yang secara genetik tidak sehat, para ahli juga menduga prosedur inseminasi memainkan peranan yang menentukan. Kesalahan pada saat injeksi sperma, merupakan salah satu faktor kerusakan genetika. Secara alamiah, sperma yang sudah dilengkapi enzim bernama akrosom berfungsi sebagai pengebor lapisan pelindung sel telur. Dalam proses pembuahan secara alamiah, hanya kepala dan ekor sperma yang masuk ke dalam inti sel telur.
Sementara dalam proses inseminasi buatan, dengan injeksi sperma, enzim akrosom yang ada di bagian kepala sperma juga ikut masuk ke dalam sel telur. Selama enzim akrosom belum terurai, maka pembuahan akan terhambat. Selain itu prosedur injeksi sperma memiliko resiko melukai bagian dalam sel telur, yang berfungsi pada pembelahan sel dan pembagian kromosom.
Dampak Inseminasi Buatan
Keberhasilan inseminasi buatan tergantung tenaga ahli di labolatorium, walaupun prosedurnya sudah benar, bayi dari hasil inseminasi buatan dapat memiliki resiko cacat bawaan lebih besar daripada dibandingkan pada bayi normal. Penyebab dari munculnya cacat bawaan adalah kesalahan prosedur injeksi sperma ke dalam sel telur. Hal ini bisa terjadi karena satu sel sperma yang dipilih untuk digunakan pada inseminasi buatan belum tentu sehat, dengan cara ini resiko mendapatkan sel sperma yang secara genetik tidak sehat menjadi cukup besar. Cacat bawaan yang paling sering muncul antara lain bibir sumbing, down sindrom, terbukanya kanal tulang belakang, kegagalan jantung, ginjal, dan kelenjar pankreas.
Seperti diketahui kemampuan berpikir dan bernalar membuat manusia menemukan berbagai pengetahuan baru. Pengetahuan itu kemudian digunakan untuk mendapatkan manfaat yang sebesar-besarnya. Akan tetapi, sering pula teknologi yang kita hasilkan itu memberikan efek samping yang memberikan dampak negatif. Oleh sebab itu ada beberapa orang yang pro dan kontra terhadap teknologi tersebut. Dari pendapat yang pro dan kontra, memunculkan masalah etis, diantaranya:
A. Bagaimana Inseminasi buatan dapat dibenarkan?
Inseminasi buatan dapat dibenarkan atau diijinkan bila dilakukan dengan alasan kesehatan dan pengobatan atau untuk meningkatkan nilai genetik, sehingga menghasilkan manusia yang lebih berkualitas. Dan yang lebih penting dilakukan oleh pasangan yang sah. Hal ini di kemukakan oleh sebagian pakar agama baik dari Islam, Kristen maupun Yahudi, karena dapat membantu pasangan suami istri yang tidak bisa memperoleh keturunan, jika kedua belah pihak setuju untuk melakukan inseminasi. Tetapi ada juga yang mempersoalkan tentang inseminasi buatan ini, bahwasanya anak yang diperoleh dengan cara inseminasi sebenarnya bukanlah anak dari dari suami istri itu sendiri, melainkan dari orang lain yang identitasnya biasanya disembunyikan. Karena itu juga muncul problem hukum tentang ayah yang benar dari anak tersebut dan problem physikologis dalam diri anak di kemudian hari bila ingin tahu tentang ayahnya yang sebenarnya. Selain itu persoalan tentang bagaimana cara mendapatkan sperma, apakah boleh digunakan masturbasi? Besarnya biaya yang dikeluarkan untuk inseminasi buatan, ternyata juga menimbulkan masalah karena terlalu mahal, sekitar 11 juta. Apakah tidak lebih baik bila biaya tersebut digunakan untuk didermakan kepada panti asuhan sebelum mereka mengangkat seorang anak dari panti asuhan tersebut?
Gambar proses pembuahan
Menerobos Kesuburan
1.Sel sperma berada di sekitar sel telur-siap untuk membuahi
2.Sel telur hampir siap untuk dilepaskan dari ovarium si wanita. Selama masa subur, wanita akan melepaskan satu atau dua sel telur yang akan berpindah ke bawah yang lalu akan bertemu sel sperma yang akan mengakibatkan terjadinya pembuahan.
Injeksi
3.Dalam IVF, dokter akan mengumpulkan sel telur sebanyak- banyaknya untuk memilih yang terbaik diantaranya. Untuk melakukannya, si pasien akan diberikan hormon untuk menambah jumlah produksi sel telur.Proses injeksi ini dapat mengakibatkan adanya efek samping.
pelepasan Sel telur
4.Setelah hormon bekerja sepenuhnya maka sel-sel telur siap untuk dikumpulkan. Dokter bedah akan menggunakan laparoskop untuk memindahkan sel-sel telur Sperma beku
5.Sperma yang dibekukan disimpan dalam nitrogen cair yang dicairkan secara sangat hati-hati oleh para teknisi
2008-09-03
Bayi Tabung
Teknologi reproduksi kini telah menembus berbagai metode canggih untuk menolong pasangan yang kesulitan mendapatkan keturunan. Gebrakan pertama terjadi saat metode "bayi tabung" pertama melahirkan Louise Brown asal Inggris pada 1978. Setelah itu, banyak teknik lain yang lebih mengagumkan berturut-turut ditemukan, termasuk metode penyuntikan satu sperma terhadap satu sel telur secara in vitro.
Setelah menunggu delapan tahun, akhirnya Rina (nama samaran) berhasil melahirkan seorang bayi mungil berkat bantuan teknologi rekayasa reproduksi in vitro atau lebih populer disebut "bayi tabung".
Ia bahagia sekali saat diberi tahu dirinya berhasil mengandung. Semula suaminya sempat putus asa karena hasil laboratorium menunjukkan, pada cairan maninya tidak ditemukan sperma. Namun, berkat kecanggihan teknologi reproduksi, pasangan ini berhasil menimang bayi laki-laki sehat melalui penyuntikan sel mani suami ke sel telur istrinya secara in vitro.
Seorang wanita Inggris bahkan mengalami kasus yang lebih unik. Suaminya dinyatakan menderita kanker pada testisnya dan organ ini harus dibuang. Padahal, keduanya sangat ingin mendapatkan keturunan. Betapa cemasnya mereka, sebab lima tahun sebelumnya, testis yang satu sudah dibuang karena penyakit yang sama. Karena tak sempat mengekstraksi sperma menjelang operasi kedua, maka testis yang sudah dipotong segera dikirim ke klinik pelayanan fertilitas di Aldridge untuk diambil spermanya dan dibekukan.
Berkat teknik yang sama, akhir Juni lalu wanita itu dikabarkan berhasil mengandung. Calon bayinya bahkan diduga kembar. Kebahagiaan bertambah ketika suaminya dinyatakan sembuh dari kanker.
Dengan semakin meningkatnya jumlah pasangan tidak subur pada 30 tahun terakhir, khususnya di negara-negara industri, para ahli di negara-negara seperti Amerika, Inggris, dan Australia, terus mencari teknik yang dapat membantu pasangan tak subur. Jumlah kasus pasangan tak subur diperkirakan sekitar 15% di dunia maupun di Indonesia.
Penyebab infertilitas bermacam-macam, bisa akibat tersumbatnya saluran sel telur pada istri (35%), masalah antibodi, lendir mulut rahim tidak normal, endometriosis, problem sperma suami, dll.
20 tahun teknik bayi tabung
Teknik bayi tabung sempat mencatat keberhasilan luar biasa dan menggemparkan dunia. Metode yang diprakarsai sejumlah dokter Inggris ini berhasil menghadirkan bayi perempuan bernama Louise Brown pada 1978. Sebelum itu, untuk menolong pasangan suami-istri tak subur digunakan teknik inseminasi buatan, yakni penyemprotan sejumlah cairan semen suami ke dalam rahim dengan bantuan alat suntik. Dengan cara ini diharapkan sperma lebih mudah bertemu dengan sel telur. Sayang, tingkat keberhasilannya hanya 15%.
Pada teknik in vitro yang melahirkan Brown, pertama-tama dilakukan perangsangan indung telur sang istri dengan obat khusus untuk menumbuhkan lebih dari satu sel telur. Perangsangan berlangsung 5 - 6 minggu sampai sel telur dianggap cukup matang dan sudah saatnya "dipanen". Selanjutnya, folikel atau gelembung sel telur diambil tanpa operasi, melainkan dengan tuntunan alat ultrasonografi transvaginal (melalui vagina).
Sementara semua sel telur yang berhasil diangkat dieramkan dalam inkubator, air mani suami dikeluarkan dengan cara masturbasi, dibersihkan, kemudian diambil sekitar 50.000 - 100.000 sperma. Sperma itu ditebarkan di sekitar sel telur dalam sebuah wadah khusus. Sel telur yang terbuahi normal, ditandai dengan adanya dua sel inti, segera membelah menjadi embrio. Sampai dengan hari ketiga, maksimal empat embrio yang sudah berkembang ditanamkan ke rahim istri. Dua minggu kemudian dilakukan pemeriksaan hormon Beta-HCG dan urine untuk meyakinkan bahwa kehamilan memang terjadi.
Sejak kelahiran Louise Brown, teknik bayi tabung atau In Vitro Fertilization (IVF) semakin populer saja di dunia. Di Indonesia, IVF pertama kali diterapkan di Rumah Sakit Anak-Ibu (RSAB) Harapan Kita, Jakarta, pada 1987. Teknik yang kini disebut IVF konvensional itu berhasil melahirkan bayi tabung pertama, Nugroho Karyanto, pada 2 Mei 1988. Setelah itu lahir sekitar 300 "adik" Nugroho, di antaranya dua kelahiran kembar empat.
Semakin canggih saja
Sukses besar teknik IVF konvensional ternyata masih belum memuaskan dunia kedokteran, apalagi kalau mutu dan jumlah sperma yang hendak digunakan kurang. Maka dikembangkanlah teknik lain seperti PZD (Partial Zona Dessection) dan SUZI (Subzonal Sperm Intersection). Pada teknik PZD, sperma disemprotkan ke sel telur setelah dinding sel telur dibuat celah untuk mempermudah kontak sperma dengan sel telur. Sedangkan pada SUZI sperma disuntikkan langsung ke dalam sel telur. Namun, teknik pembuahan mikromanipulasi di luar tubuh ini pun masih dianggap kurang memuaskan hasilnya.
Sekitar lima tahun lalu Belgia membuat gebrakan lain yang disebut ICSI (Intra Cytoplasmic Sperm Injection). Teknik canggih ini ternyata sangat tepat diterapkan pada kasus mutu dan jumlah sperma yang minim. Kalau pada IVF konvensional diperlukan 50.000 - 100.000 sperma untuk membuahi sel telur, pada ICSI hanya dibutuhkan satu sperma dengan kualitas nomor wahid. Melalui pipet khusus, sperma disuntikkan ke dalam satu sel telur yang juga dinilai bagus. Langkah selanjutnya mengikuti cara IVF konvensional. Pada teknik ini jumlah embrio yang ditanamkan cuma 1 - 3 embrio. Setelah embrio berhasil ditanamkan dalam rahim, si calon ibu tinggal di rumah sakit selama satu malam.
Di Indonesia, menurut dr. Subyanto DSOG dan dr. Muchsin Jaffar DSPK, tim unit infertilitas MELATI-RSAB Harapan Kita, ICSI sudah diterapkan sejak 1995 dan berhasil melahirkan anak yang pertama pada Mei 1996. Dengan teknik ini keberhasilan bayi tabung meningkat menjadi 30 - 40%, terutama pada pasangan usia subur.
Berdasarkan pengalaman, menurut dr. Muchsin, peluang terjadinya embrio pada teknologi bayi tabung sekitar 90%, di antaranya 30 - 40% berhasil hamil. Namun, dari jumlah itu, 20 - 25% mengalami keguguran. Sedangkan wanita usia 40-an yang berhasil melahirkan dengan teknik in vitro hanya 6%. Karena rendahnya tingkat keberhasilan dan mahalnya biaya yang harus dikeluarkan pasien, teknik ini tidak dianjurkan untuk wanita berusia 40-an.
Pasangan yang masuk program MELATI tidak harus mengikuti program IVF. Teknik ini hanya ditawarkan kalau setelah diusahakan dengan cara lain, tidak berhasil. Sebelum mengikuti program ini pun pasutri diminta mengikuti ceramah dan menerima penjelasan semua prosedurnya agar diikuti dengan mantap.
Biaya mengikuti program IVF memang tidak murah. Pada akhir 1980-an biayanya sekitar Rp 5 juta. Kini, berkisar antara Rp 13,5 juta - Rp 18 juta. Harga obat suntik perangsang indung telur saja sudah naik hampir empat kali lipat. Padahal, suntikan yang dibutuhkan selama dua minggu mencapai 45 ampul.
Selain RSAB Harapan Kita, Jakarta, teknik IVF juga sudah diterapkan di FKUI-RSUPN Cipto Mangunkusumo (Jakarta), Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (Surabaya), dan Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada dan RS Dr. Sardjito (Yogyakarta).
Kalau sperma kosong
Pada kasus cairan air mani tanpa sperma (azoospermia), mungkin akibat penyumbatan atau gangguan saluran sperma, kini bisa dilakukan pengambilan sperma dengan teknik operasi langsung pada saluran air mani atau testis. Tekniknya ada dua, MESA (Microsurgical Sperm Aspiration) dan TESE (Testicular Sperm Extraction). Pada MESA, sperma diambil dari tempat sperma dimatangkan dan disimpan (epididimis). Sedangkan pada TESE, sperma langsung diambil dari testis yang merupakan pabrik sperma. Setelah sperma diambil, dipilih yang paling baik. Selanjutnya, dilakukan langkah-langkah menurut prosedur ICSI. Teknik ini juga sudah diterapkan di RSAB Harapan Kita sejak 1996 dan telah berhasil melahirkan dua anak.
Seperti di negara lain, sejak 1992 Indonesia sudah melakukan simpan beku embrio. Perangsangan indung telur wanita pada prosedur bayi tabung memungkinkan terbentuknya banyak embrio. Tidak mungkin semua embrio ditransfer ke dalam rahim pada saat bersamaan. Embrio yang untuk sementara tidak digunakan dapat disimpan dengan cara kriopreservasi, yang selanjutnya disimpan dalam tabung berisi cairan nitrogen pada suhu 196oC di bawah nol derajat. Kapasitas tabung sekitar 100 embrio.
Simpan beku embrio ini menghemat biaya karena pasangan tidak perlu lagi mengulang proses pengerjaan dari awal lagi bila embrio berikutnya perlu ditanamkan kembali. Tidak seperti di Barat, embrio ataupun sperma yang tersimpan beku di Indonesia hanya diperuntukkan bagi pasutri yang bersangkutan.
Salah satu contoh keberhasilan teknik penyimpanan embrio bisa ditemukan di Belgia. Baru-baru ini lahir seorang bayi laki-laki sehat hasil penanaman embrio yang sudah dibekukan selama 7,5 tahun dari pasangan lain (anonim). Bayi yang dibantu kelahirannya oleh dr. Michael Vermesh ini beratnya 4 kg. Daya tahan embrio yang dibekukan bisa puluhan tahun dan tetap bisa menjadi bayi sehat.
Teknologi reproduksi in vitro ternyata sangat membantu pasangan yang mengalami gangguan reproduksi. Mengupayakan pasutri agar bisa mempunyai anak sungguh merupakan perbuatan mulia dan membahagiakan, sekalipun pembuahannya dilakukan di laboratorium. Seperti halnya Louise Brown, mungkin banyak anak yang dilahirkan melalui teknik ini ikut bersyukur bahwa kedua orang tuanya mengikuti program itu.
Sabtu, 31 Juli 2010
Sekapur Sirih
Tak Terasa Kuliah Kita sudah menginjak semester ke-3 itu artinya...separuh perjalanan kita sudah kita lewati,. rintangan, usaha dan kerja keras kita sudah mulai menampakkan hasilnya.. memang belum sempurna tetapi ibarat pepatah mengatakan sekali meretas jalan pantang untuk berhenti dan menengok kebelakang, saudara-saudaraku.. sebentar lagi nilai yudisium akan keluar tentunya ini menjadi hal kita tungu-tunggu walaupun kadangkala ada perasaan dan emosi yang berbeda antara harapan dengan kenyataan.., namun bagi kita yang penting adalah mensikapi secara propoasional dan bijaksana... masih ada waktu utk berbenah... proposal tesis adalah ujian sesungguhnya... mau ndak mau,.. suka tidak suka harus kita hadapi semoga kita termasuk golongan manusia yang diberi manfaat dan keberuntungan ...
Salam Pasca Sarjana Bio 2009 Unnes
Setyo Nugroho
Salam Pasca Sarjana Bio 2009 Unnes
Setyo Nugroho
Langganan:
Komentar (Atom)